#ShortEscape: Tur Jalan Kaki Keliling Kuala Lumpur

Eps. 9: Jalan Kaki Keliling Kuala Lumpur? Kenapa nggak?

Kami kembali menuju Kuala Lumpur masih menggunakan KTM Komuter, masih dengan harga tiket yang sama, dan menuju stesen yang sama pula. Bedanya, karena stesen Batu Caves ini adalah stesen terminus, maka train berhenti cukup lama di stesen ini. Dan juga karena belum banyak penumpang yang naik, maka train juga masih cukup sepi penumpang, bahkan dalam satu gerbong penumpangnya cuma kami berdua. Enak lah bisa selonjoran.

2017-28-09-09-12-18
Lumayan, bisa buat selonjoran

Berbekal hasil blogwalking sebelumnya, gue memantapkan hati untuk mengikuti jejak-jejak traveller lain yang sudah berhasil mengelilingi Kuala Lumpur dengan berjalan kaki. Ya, bukan juga keliling kotanya dari ujung ke ujung sih, tapi lebih tepatnya keliling tempat wisata yang berdekatan di sekitar pusat kota Kuala Lumpur. Tempat-tempat wisata ini terletak cukup berdekatan dan tentunya gratis dong. Hahaha.

Perjalanan kita mulai dengan naik LRT ke Masjid Jamek

2017-27-09-16-25-59

Dari stesen Kuala Lumpur, kita menyebrang ke stesen LRT Pasar Seni dan naik LRT menuju Masjid Jamek. Stesen LRT Masjid Jamek hanya berjarak satu stesen saja dari stesen LRT Pasar Seni, dan hanya memakan ongkos sebesar RM 1.30.  Sebenarnya bisa juga sih jalan kaki dari Pasar Seni ke Masjid Jamek, tapi karena pertimbangan malas dan panas kepraktisan, kita lebih memilih naik LRT. FYI, Masjid Jamek bisa kalian capai baik dengan LRT Laluan Kelana Jaya atau Laluan Ampang/Sri Petaling.

Masjid Jamek

Keluar dari stesen LRT Masjid Jamek, kalian langsung akan menemui Majid Jamek ini. Masjid Jamek atau nama lengkapnya Masjid Jamek Sultan Abdul Samad, adalah salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Masjid ini terletak di titik pertemuan antara Sungai Klang dan Sungai Gombak, yang dapat diakses dari Jalan Tun Perak.

Kebetulan waktu itu kita datang pas Masjid Jamek sedang ada renovasi. Kita tidak diperbolehkan masuk karena belum masuk waku sholat, jadi waktu itu cukup lihat dari luar saja.

NB: Karena udah kecewa duluan gabisa masuk liat-liat Masjid Jamek, akhirnya baru nyadar kalo nggak ada sama sekali foto di Masjid Jamek, jadi maafin yak ga ada fotonya Masjid Jamek.

Dataran Merdeka (Merdeka Square)

2017-27-09-17-04-44

Setelah dari Masjid Jamek, beloklah ke kiri kembali ke Jalan Tun Perak. Jalan lurus sampai ke persimpangan, kemudian belok ke kiri lagi. Masuk di Jalan Raja, kalian akan menemui suatu bangunan cantik di sebelah kiri, bangunan itu adalah Dewan Bandaraya Kuala Lumpur. Berjalanlah lurus kembali sampai menemui sebuah lapangan, lapangan inilah yang disebut Dataran Merdeka.

2017-28-09-09-20-59
Suasana pedestrian menuju ke Dataran Merdeka

Karena waktu itu kita sampai pas tengah hari, jadi kita istirahat ngadem dulu di sebuah taman kecil yang ada di bagian ujung Dataran Merdeka, ditambah semprotan air mancur yang sedikit menyegarkan, ditambah lagi ada WiFi gratis. Seger!

2017-28-09-09-25-24

Dataran Merdeka ini adalah sebuah tempat yang bersejarah bagi Malaysia. Di lapangan inilah pada tanggal 31 Agustus 1957, bendera Inggris diturunkan dan bendera Malaysia dinaikkan untuk pertama kalinya. Di bagian ujung lain lapangan ini terdapat tiang bendera setinggi 95 meter, menjadikan tiang bendera ini sebagai salah satu tiang bendera tertinggi di dunia. Di sekitar Dataran Merdeka terdapat beberapa bangunan bersejarah lainnya, antara lain Bangunan Sultan Abdul Samad, Katedral St. Mary, Royal Selangor Club, Muzium Muzik, Muzium Tekstil dan Kuala Lumpur City Gallery.

2017-28-09-09-34-50
One of world’s tallest flag-pole
2017-28-09-09-41-40
Bangunan Sultan Abdul Samad
2017-28-09-09-44-46
Muzium Tekstil

Kuala Lumpur City Gallery

Berjalanlah lurus mengikuti Dataran Merdeka, dan di ujung dekat tiang bendera akan kalian temui Kuala Lumpur City Gallery. Dari kejauhan pasti kalian bisa mengetahui tempat ini, yang ditandai dengan tulisan “I ❤️ KL” dengan warna merah mencolok. Jangan lupa melakukan foto bersama tulisan ikonik ini dulu, agar sah kunjungan kalian ke KL City Gallery. Tapi ingat ya, harus antri dengan tertib!

2017-28-09-09-51-13

Masuk ke KL City Gallery ini akan dikenai tiket masuk sebesar RM 5 saja. Sebenernya bisa dibilang gratis sih. Soalnya tiket ini semacam voucher gitu, jadi kalian bisa tukarkan dengan makanan atau minuman atau suvenir nanti waktu mau keluar dari tempat ini, dengan harga RM 5 juga. Jadi, jika makanan atau minuman atau barang yang kalian mau harganya lebih dari RM 5, tinggal nambah kurangnya aja, tapi kalau harganya kurang dari RM 5 kayaknya nggak dikasih kembalian deh. Jadi, ambil sesuai harga aja. *pantang rugi*

2017-28-09-09-59-27
Tiket sekaligus voucher

Di dalam KL City Gallery ini ada apa aja sih? Banyak! Jadi, sebenernya tempat ini adalah tourist information centre yang didalamnya menyimpan berbagai miniatur replika bangunan terkenal di Kuala Lumpur. Nggak hanya miniaturnya kok, tetapi ada juga foto dan lukisan tentang sejarah Kuala Lumpur disertai dengan penjelasannya.

2017-28-09-10-04-07
Miniatur Masjid Jamek

Naik ke lantai dua, kalian akan disuguhi ruangan yang penuh dengan maket pemandangan kota Kuala Lumpur. Ketika pertunjukan dimulai, lampu ruangan akan dimatikan dan diputar video tentang sejarah pembangunan kota Kuala Lumpur hingga sekarang. Video akan disuguhkan dengan tiga bahasa, yakni Melayu, Inggris dan Mandarin. Selama pemutaran video, maket ini akan menyala dengan lampu warna-warni sesuai dengan informasi yang diberikan lewat video. Jadi, dengan bantuan teknologi multimedia ini, pengunjung akan lebih mudah memahami bagaimana perkembangan kota Kuala Lumpur.

2017-28-09-10-07-23

2017-28-09-10-10-26

Kembali ke lantai 1, sebelum keluar ada area kafe dan suvenir. Terdapat berbagai macam suvenir yang dijual disini, dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Memang, rata-rata harga suvenir yang dijual disini lebih mahal daripada suvenir yang dijual di Petaling Street, tapi kualitas tetap menjadi nomor satu disini. Jika kalian tidak ingin menukarkan voucher dengan suvenir, tukarkan saja dengan makanan atau minuman. Waktu itu kita tukarkan voucher dengan Teh Tarik seharga RM 5, karena males nombok jadi cari yang harganya sama saja. Lumayan kan habis capek jalan kaki, nikmatin minuman di ruangan ber-AC dan ber-WiFi, sambil ngumpulin tenaga untuk jalan kaki lagi.

2017-28-09-10-14-19

Masjid Negara Malaysia

2017-27-09-17-14-15

Keluar dari KL City Gallery, berjalanlah lurus sampai bertemu persimpangan dan belok kanan. Berjalanlah lurus melalui Jalan Sultan Hishamuddin, melewati sebuah terowongan dan sampailah di sebuah Masjid yang terlihat lain dari Masjid pada umumnya.

2017-28-09-12-19-102

2017-28-09-12-19-10

Masjid yang diresmikan pada tahun 1965 ini merupakan lambang keagungan Islam sebagai agama resmi di Malaysia. Selain bentuk Masjid yang modern, hal lain yang sangat mencolok dari Masjid ini adalah sebuah minaret setinggi 73 meter. Bentuk atap Masjid ini pun unik, menyerupai sebuah payung yang terbuka dengan 16 titik.

Karena sudah masuk waktu sholat Dhuhur, gue pun menyempatkan diri untuk menunaikan sholat. Sepertinya Masjid ini juga digunakan untuk sebuah sekolah, karena pada saat itu bisa gue lihat banyak anak-anak kecil menggunakan baju seragam sekolah khas Malaysia. Benar saja, waktu itu gue juga sempat lihat anak-anak tersebut sedang belajar gerakan dan bacaan sholat.

2017-28-09-12-31-16

2017-28-09-12-35-01

2017-28-09-12-38-15

2017-28-09-12-41-31

Setelah sholat, gue sempatkan waktu sebentar untuk sedikit mengelilingi masjid ini dan mengagumi keindahannya. Jika kalian membawa botol kosong juga bisa isi air minum disini, karena disediakan tempat pengisian air minum juga. Hal lain yang sangat gue apresiasi adalah tersedianya WiFi gratis di dalam Masjid. Alhamdulillah. *fakir WiFi*

2017-28-09-12-46-40

Bangunan Ibu Pejabat Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad

Keluar dari Masjid Negara, kembalilah berjalan dengan arah yang sama. Tidak jauh dari Masjid Negara, kalian akan menemui sebuah bangunan cantik berwarna cokelat. Bangunan ini adalah Bangunan Ibu Pejabat Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad.

2017-28-09-14-15-40.jpeg

What?? Ibu Pejabat?? Istrinya Pak Pejabat dong. Tentu saja bukan! Ibu Pejabat yang dimaksud disini adalah sama dengan Headquarters dalam Bahasa Inggris, atau kalau dalam Bahasa Indonesia artinya sama dengan Kantor Pusat. Jadi, bangunan ini adalah Kantor Pusat yang mengelola seluruh aktifitas bisnis dari Keretapi Tanah Melayu (KTM).

Desain bangunan yang cantik menjadi ciri khas dari bangunan ini. Dirancang dengan arsitektur bergaya Moor, dengan mengaplikasikan elemen arsitektur Islam seperti yang biasa terlihat pada kubah Masjid.

Stesen Kuala Lumpur

Stesen Kuala Lumpur terletak di seberang Bangunan Ibu Pejabat KTM Berhad, hanya dipisahkan dengan sebuah ruas jalan saja. Walaupun begitu, jangan menyeberang jalan di tempat ini, karena di sepanjang median jalan dan di sepanjang trotoar terdapat pagar, sehingga kalian tidak akan bisa menyeberang jalan disini. Oleh karena itu, gunakanlah terowongan penyeberangan yang terletak pas di depan Bangunan Ibu Pejabat KTM Berhad.

2017-28-09-14-20-26

Stasiun Kuala Lumpur ini terlihat sangat kontras dibandingkan dengan bangunan yang ada di seberang dengan warna putihnya. Sebelumnya, stasiun ini merupakan stasiun sentral yang digunakan sebagai pusat kereta api, namun sekarang kedudukannya telah digantikan oleh Kuala Lumpur Sentral. Hingga saat ini, stasiun ini masih berfungsi untuk melayani KTM Komuter.

Masih kuat? Lanjut lagi yuk!

To be continued…

 

#ShortEscape: Review Agosto Guesthouse Kuala Lumpur [RECOMMENDED]

Eps. 5: Review Hostel Agosto Guesthouse

Agosto Guesthouse

No. 208 Jalan Tun HS Lee, Kuala Lumpur, Malaysia, 51000

Nearest transportation access: Pasar Seni LRT Station, Kuala Lumpur Station, Pasar Seni Bus Hub

Rate: around IDR 75.000 per bed per night (dormitory room)

Facilities: Free WiFi, breakfast not included 

Tidak diperlukan waktu lama untuk sampai di stesen Pasar Seni, hanya 5 menit saja, karena hanya berjarak 1 stesen saja dari KL Sentral. Kami langsung keluar dari stesen ke Jalan Hang Kasturi. Seketika itulah kami bingung mau jalan ke arah mana. Dari pemberhentian bas Pasar Seni, kami berjalan ke arah kiri sampai ketemu Kasturi Walk. Nah loh, nyasar kan, belum ada niat ke Kasturi Walk malah udah nyampe duluan.

Akhirnya kita balik lagi ke arah stesen Pasar Seni, berhenti di dekat pemberhentian bas dan sedikit istirahat cari wangsit petunjuk jalan. Hasil screenshoot Google Maps yang sempet gue ambil nggak banyak membantu. Akhirnya gue suruh Nadia tubggu disitu dan gue jalan ke arah lain cari papan nama Jalan Sultan. Ternyata eh ternyata, Jalan Sultan tinggal lurus saja dari pemberhentian bas tadi. Mbok yo dari tadi to!

Setelah ketemu dengan Jalan Sultan, kami jalan lurus disitu dan di perempatan pertama belok kiri. Di sebelah kanan ada pekerjaan pembangunan MRT yang belum selesai. Nantinya, LRT akan terintegrasi dengan MRT yang stasiunnya terletak di bawah tanah. Setelah sampai di perempatan jalan, gue dengan mudah menemukan Agosto Guesthouse ini, walaupun minim embel-embel papan nama.

Pintu masuk Agosto Guesthouse, nah itu di sebelahnya ada 7-Eleven

Oh iya, Agosto Guesthouse ini udah gue pesen dari sebulan sebelumnya. Setelah survey, blogwalking dan baca-baca review, akhirnya dipilihlah hostel ini. Gue booking hostel melalui Traveloka, sebenernya bisa juga dari booking.comHostelWorld ataupun Agoda, tapi karena gue nggak punya kartu kredit, jadi lebih milih Traveloka aja. Waktu itu gue dapat harga Rp72.300,- per bed per malam, dengan fasilitas free WiFi tanpa sarapan.

Agosto Guesthouse ini tipikalnya seperti hostel di Kuala Lumpur pada umumnya. Menggunakan bangunan ruko lantai 2 dan 3, dan lantai 1 ruko digunakan untuk pertokoan. Ada tangga kecil disamping ruko untuk naik ke hostel ini. Pintu utama hostel menggunakan kunci otomatis dan bisa dibuka menggunakan access card. Berhubung kita belum punya access card, jadi tinggal pencet bel yang tersedia di depan pintu. Mungkin pada saat itu gue belum tau mekanisme pembukaan kunci pintu gimana, jadi setelah gue pencet bel, nggak ada orang yang ngebukain. Gue pencet berkali-kali tetep nggak ada yang ngebukain. Nggak lama dari dalam ada mas-mas penjaga hostel yang suruh gue buka pintu. Oalah ternyata setelah kita pencet bel, keluar suara ‘beep‘ dan pintu sudah unlocked. Ndeso!

Masuk ke dalam hostel kita harus lepas alas kaki. Sepatu atau sandal bisa disimpan di rak sepatu di sepanjang tangga. Disambut oleh mas-mas penjaga hostel yang kayaknya keturunan India. Orangnya lumayan ramah dan kita berkomunikasi menggunakan campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Gue menunjukkan bookingan Traveloka melalui handphone dan mas penjaga hostelnya langsung ngecek di komputer resepsionis. Kesan pertama gue dengan hostel ini adalah sama persis dengan foto yang ada di Traveloka, ya meskipun agak sempit sih aslinya. Dinding hostel ini dipenuhi dengan hiasan dinding dan info tempat wisata di sekitar hostel. Di keranjang resepsionis gue menemukan makanan favorit rakyat Indonesia, Indomie, yang bungkusnya tertera dalam bahasa Melayu. Yawla, jauh-jauh ke Kuala Lumpur nemunya Indomie juga.

Selerakuuu… Ini Mi Segera namanya…

Di pojokan ruangan ada tempat bersantai yang kayaknya tempatnya enak dibuat santai. Sayang sih nggak sempet nyobain ruang santainya. Di ujung sebelum tangga terdapat wastafel dan tandas a.k.a. kamar mandi. Masnya bilang kalau tandas di atas penuh bisa pakai tandas yang di bawah. Di belakang meja resepsionis ada kulkas, gue nggak yakin minuman apa saja yang mereka jual tapi yang pasti ada tulisan BEER tertempel di pintu kulkas. Mereka juga menjual beberapa alat mandi dan universal adaptor. Di sini nggak ada tempat makan soalnya hostel juga nggak menyediakan sarapan. Beberapa kamar ada di lantai 2 ini, dan kamar yang lain ada di lantai 3.

81781277
Resepsionis hostel di lantai 2. Gambar diambil dari booking.com

Setelah mas penjaga hostel tadi ngubek-ngubek komputer dan buku catatan hostel, dia memberitahu kita kalau bookingan kita nggak ada dan sudah dibatalkan. Jederrrr! Ini nggak ada pemberitahuan apa-apa kok bookingan gue dibatalkan? Mimpi apa gue semalem, gue nggak mau keluar duit lagi buat booking hostel lagi. Kemudian gue keluarkan print out booking dari Traveloka yang ada nomor bookingnya. Masnya kemudian ketak-ketik lagi dan bilang kalo bookingan kita ada. Fiyuh, untunglah mas ketemu, kalo nggak, mungkin kita ngemper di depan hostelnya mas nih.

24
Tempat santai di lantai 2. Gambar diambil dari hostelworld.com

Masnya kemudian minta paspor kita berdua. Kemudian masnya minta uang deposit sebesar RM 50. He? Ada uang deposit juga ya. Duh makin kere lah kita ini. Bawa uang cuma seberapa masih dimintain deposit juga. Katanya sih deposit ini buat access card sama kunci loker. Okelah, berarti nanti harus ngirit nih. Kemudian kita dikasih access card buat buka pintu depan, kunci kamar dan kunci loker.

Masnya kemudian ngantar kita ke kamar yang terletak di lantai 3. Ada sebuah tempat santai lain di lantai 3 ini, tampaknya lebih cozy dan tersedia beberapa permainan papan dan juga ada televisi. Kamar kita terletak di ujung depan, pas di depan AC yang pada waktu itu udah dinyalakan. Di dalam kamar terdapat 4 kasur bertingkat, jadi total ada 8 kasur. Gue dapet kasur di atas dan itu naiknya agak susah gitu. Loker terletak di bawah kasur paling bawah dan ukurannya lumayan besar.

Bed bagian atas. Keadaan kamar agak gelap karena tidak ada jendela.

Fasilitas di setiap bed lumayan lengkap. Sebut saja bantal, selimut, lampu baca, kipas angin dan colokan listrik sebanyak 3 buah. Oh iya, colokan listrik di Malaysia bentuknya yang kaki tiga, pastinya berbeda dengan Indonesia, jadi jangan lupa bawa universal adaptor. Waktu itu di bed gue nggak ada kipas anginnya, tapi nggak jadi masalah, AC nya udah dingin banget soalnya. Oh iya, di masing-masing bed juga ada tirainya, jadi walaupun tidur di dorm tapi kita masih punya privasi masing-masing. Kan ada tuh orang yang risih kalo diliatin orang lain pas tidur, termasuk gue sih.

1031378_16072617160044952320
Tempat santai di lantai 3. Gambar diambil dari Agoda

Kamar mandi di lantai 3 ini ada di bagian belakang dan terdapat 3 bilik. Ada wastafel dan cermin berukuran besar di depan bilik kamar mandi. Bilik toilet dan bilik kamar mandi gabung jadi satu. Jadi, di dalam satu bilik ada shower, toilet duduk dan wastafel beserta cermin. Hostel tidak menyediakan perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, shampo dan sikat gigi, jadi jangan lupa bawa sendiri ya! Kamar mandi dalam keadaan sangat bersih. Tersedia juga air panas untuk mandi, tapi tidak bisa diatur tingkat kepanasannya, hanya ada satu saklar untuk menyalakan mesin pemanas airnya. Waktu gue coba, memang keterlaluan panasnya. Akhirnya daripada jadi daging rebus, mending mandi pakai air dingin saja.

Overall, Agosto Guesthouse ini sangat gue rekomendasikan bagi kalian para backpacker yang cari tempat sekadar buat istirahat. Walaupun harganya dibawah Rp100.000,- per malam, tapi fasilitas nya lumayan lengkap. Gue pun merasa nyaman tidur di hostel ini. Bersih dan nggak berisik pula. Lokasi hostel ini pun sangat strategis. Dekat dengan stesen LRT Pasar Seni, stesen Kuala Lumpur dan pemberhentian bas Pasar Seni. Hostel ini juga lokasinya ada di Chinatown. Jadi tinggal jalan kaki aja, udah bisa ubek-ubek Central Market, Kasturi Walk dan Petaling Street. Kelaperan tengah malem pun gampang, bisa ngemil di 7-Eleven yang ada pas di sebelah hostel.

Intinya, VERY RECOMMENDED!

Catatan: Gue lupa nggak ambil banyak foto pas di hostel ini, jadi beberapa foto gue ambil dari beberapa website langsung berupa link, bukan reupload foto tersebut.

To be continued

#ShortEscape: Selamat Datang Ke Kuala Lumpur

Eps. 4: Selamat Datang Ke Kuala Lumpur!

Pesawat yang membawa kami dari Makassar terpakir di gate L14. Pier L terletak tidak terlalu jauh dari Balai Ketibaan dan tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke pemeriksaan imigrasi. Pier L ini berbagi salah satu ‘sayap’ dari klia2 dengan pier K, tidak seperti pier J yang digunakan untuk penerbangan internasional, pier K digunakan untuk penerbangan domestik Malaysia.

Ini nih enaknya pesawat parkir di pier L, karena terletak tidak terlalu jauh, berjalan kaki dari gate ke pemeriksaan imigrasi hanya memerlukan waktu 5 menit saja, apalagi dibantu dengan beberapa travelator. Tapi tetep menurut gue ada kurangnya sih, kalau pesawat parkir di pier L, kita tidak melewati skybridge. Skybridge ini merupakan jembatan penghubung antara satellite terminal (pier P dan Q) dengan bangunan utama bandara. Jika kita melewati skybridge maka akan mendapatkan pemandangan bandara yang spektakuler.

Masih asing dengan penggunaan bahasa Melayu, apalagi yang tertulis begini

Begitu tiba di tempat pemeriksaan imigresen, gue mencari antrean yang nggak terlalu ramai. Akhirnya gue pilih antrean di jalur khusus paspor ASEAN. Cukup 10 menit mengantre, gue udah sampai di depan petugas imigresen Malaysia. Setelah itu gue menyerahkan paspor kepada petugas. Kemudian petugas meminta kita untuk menempelkan kedua jari telunjuk di atas mesin pemindai biometrik yang tersedia. Tanpa bersuara, tanpa pertanyaan apapun, petugas kemudian memberikan cap pada paspor dan menyerahkan kembali. Untunglah nggak ada masalah apa-apa.

Begitu kelar urusan imigrasi, ketika di tempat pengambilan bagasi gue duduk-duduk sebentar sambil mencari secercah harapan WiFi. Gue mencoba menghubungi travelmate gue kali ini, si Nadia, hanya dengan mengandalkan WiFi bandara, mengingat gue nggak mengaktifkan roaming. Dia udah mendarat duluan di klia2 beberapa jam yang lalu. Karena dia udah pernah ke klia2 dan udah menguasai beberapa tempat di klia2, gue nggak terlalu khawatir kalau dia nungguin sendirian di klia2. Kirim pesan lewat LINE, nggak dibaca, gue telfon lewat LINE nggak diangkat juga. Akhirnya gue memutuskan untuk menunggu di Balai Ketibaan saja.

Waktu melewati pemeriksaan kastam (kalau di Indonesia namanya bea dan cukai), pas mau naruh tas ransel ke mesin xray, petugasnya malah nyuruh gue buat jalan lanjut aja, nggak usah naruh tas ransel ke mesin xray. Yaudah, gue mah nurut aja. Selesai urusan kastam, Nadia udah bales pesan LINE gue dan kasih tau kalau dia pas di depan pintu kedatangan. Setelah sedikit mencari akhirnya ketemu juga. Ini nih senengnya ketemu temen lama yang jarang banget ketemu, sekalinya ketemu, ketemunya di luar negeri. Hihihi.

Keluar dari bangunan utama bandara, kita masuk di sebuah mall yang namanya gateway@klia2. Tidak susah untuk menemukan beberapa moda transportasi yang bisa membawa kita ke Kuala Lumpur, sebab semua petunjuk tersebut sudah terpampang dengan jelas. Tinggal ikuti saja setiap petunjuk untuk menuju pemberhentian teksi, stasiun KLIA Transit dan KLIA Ekspres, ataupun platform bas. 

Kali ini, atas nama penghematan, kami lebih memilih menggunakan bas untuk mencapai Kuala Lumpur. Dari Balai Ketibaan, cukup berjalan lurus mengikuti petunjuk dan turun ke level 1. Jangan lupa untuk membeli terlebih dahulu tiket bas di kaunter yang tersedia. Harga tiket bas dari klia2 dengan tujuan KL Sentral adalah RM 12, dengan menggunakan Skybus. Ada beberapa platform tempat keberangkatan bas, jadi perhatikan jangan sampai salah naik bas. Kalau tidak yakin, tanya saja ke mas-mas yang periksa tiket sebelum naik bas.

Bas yang kita naiki mempunyai layout kanan 2 kursi, kiri 2 kursi. Suasana bas layaknya bus DAMRI yang ada di Indonesia. Walaupun minim hiburan dalam bas, tapi cukup nyaman untuk perjalanan dari klia2 ke KL Sentral. Tas atau koper bisa ditaruh di tempat penyimpanan bagasi di bawah bas.

Rame juga basnya, tapi lumayan nyaman untuk perjalanan satu jam.

Perjalanan dari klia2 ke KL Sentral memakan waktu selama satu jam. Dari klia2 ke KL Sentral melewati highway yang mempunyai pemandangan pepohonan kelapa sawit sepanjang jalan. Untuk sesaat gue merasa nggak kayak di luar negeri sih, rasanya sama aja kayak ngelewati jalan tol Gempol-Surabaya.

Pintu Tol Mex Putrajaya

Selepas pemandangan pepohonan kelapa sawit yang membosankan, mulailah terlihat gedung-gedung tinggi dari kejauhan. Lintasan rel keretapi pun mulai terlihat. Keluar dari highway, kita memasuki jalan raya biasa yang mulai dipenuhi dengan mobil, bas dan motor. Tidak lama kemudian bas berhenti di KL Sentral bersebelahan dengan bas-bas lainnya.

Di sekitar KL Sentral

Turun dari bas, kami mengikuti iring-iringan penumpang lain. Waktu itu benar-benar buta tentang KL Sentral. Dari tempat pemberhentian bas, kami naik ke lantai atas menggunakan tangga yang lumayan tinggi, apalagi sambil bawa koper. Begitu sampai di atas, makin bingunglah kita melihat begitu ramainya KL Sentral ini. 

KL Sentral merupakan sebuah hub yang menghubungkan berbagai macam moda transportasi di Kuala Lumpur. Disini kalian bisa dengan mudah menemukan berbagai macam moda transportasi di Kuala Lumpur seperti Light Rail Transit (LRT), KL Monorail, KLIA Ekspres, KLIA Transit, KTM Komuter, KTM Antarabandar, bas dan teksi.

Tujuan kami selanjutnya adalah menuju hostel yang sudah kami pesan sebelumnya, di daerah Chinatown. Untuk menuju kesana, kami menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan turun di Pasar Seni. Tidak sulit untuk menemukan stesen LRT di KL Sentral ini, karena petunjuk tersedia dengan jelas. 

Harga tiket dari KL Sentral menuju stesen Pasar Seni adalah RM 1.30. Tiket bisa dibeli melalui mesin-mesin tiket yang tersedia di sekitar stasiun LRT. Tiket untuk LRT berbentuk token berwarna biru. Ketika masuk melalui gate, cukup tempelkan token di mesin gate dan tunggu pintu terbuka. Setelah melewati gate, kami segera naik ke platform keberangkatan LRT. Perhatikan jangan sampai salah pilih platform, untuk menuju Pasar Seni, pilih platform dengan tujuan akhir Gombak.

Tiket LRT berbentuk token berwarna biru.

Tidak diperlukan waktu lama untuk menunggu tren datang. Ketika tren telah datang, beri jalan dulu untuk penumpang yang akan turun, kemudian barulah kita bisa masuk. Dari KL Sentral ke Pasar Seni hanya berjarak satu stesen dengan lama perjalanan kurang lebih sekitar 5 menit.

Platform LRT di KL Sentral

To be continued…