#ShortEscape: Selamat Datang Ke Kuala Lumpur

Eps. 4: Selamat Datang Ke Kuala Lumpur!

Pesawat yang membawa kami dari Makassar terpakir di gate L14. Pier L terletak tidak terlalu jauh dari Balai Ketibaan dan tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke pemeriksaan imigrasi. Pier L ini berbagi salah satu ‘sayap’ dari klia2 dengan pier K, tidak seperti pier J yang digunakan untuk penerbangan internasional, pier K digunakan untuk penerbangan domestik Malaysia.

Ini nih enaknya pesawat parkir di pier L, karena terletak tidak terlalu jauh, berjalan kaki dari gate ke pemeriksaan imigrasi hanya memerlukan waktu 5 menit saja, apalagi dibantu dengan beberapa travelator. Tapi tetep menurut gue ada kurangnya sih, kalau pesawat parkir di pier L, kita tidak melewati skybridge. Skybridge ini merupakan jembatan penghubung antara satellite terminal (pier P dan Q) dengan bangunan utama bandara. Jika kita melewati skybridge maka akan mendapatkan pemandangan bandara yang spektakuler.

Masih asing dengan penggunaan bahasa Melayu, apalagi yang tertulis begini

Begitu tiba di tempat pemeriksaan imigresen, gue mencari antrean yang nggak terlalu ramai. Akhirnya gue pilih antrean di jalur khusus paspor ASEAN. Cukup 10 menit mengantre, gue udah sampai di depan petugas imigresen Malaysia. Setelah itu gue menyerahkan paspor kepada petugas. Kemudian petugas meminta kita untuk menempelkan kedua jari telunjuk di atas mesin pemindai biometrik yang tersedia. Tanpa bersuara, tanpa pertanyaan apapun, petugas kemudian memberikan cap pada paspor dan menyerahkan kembali. Untunglah nggak ada masalah apa-apa.

Begitu kelar urusan imigrasi, ketika di tempat pengambilan bagasi gue duduk-duduk sebentar sambil mencari secercah harapan WiFi. Gue mencoba menghubungi travelmate gue kali ini, si Nadia, hanya dengan mengandalkan WiFi bandara, mengingat gue nggak mengaktifkan roaming. Dia udah mendarat duluan di klia2 beberapa jam yang lalu. Karena dia udah pernah ke klia2 dan udah menguasai beberapa tempat di klia2, gue nggak terlalu khawatir kalau dia nungguin sendirian di klia2. Kirim pesan lewat LINE, nggak dibaca, gue telfon lewat LINE nggak diangkat juga. Akhirnya gue memutuskan untuk menunggu di Balai Ketibaan saja.

Waktu melewati pemeriksaan kastam (kalau di Indonesia namanya bea dan cukai), pas mau naruh tas ransel ke mesin xray, petugasnya malah nyuruh gue buat jalan lanjut aja, nggak usah naruh tas ransel ke mesin xray. Yaudah, gue mah nurut aja. Selesai urusan kastam, Nadia udah bales pesan LINE gue dan kasih tau kalau dia pas di depan pintu kedatangan. Setelah sedikit mencari akhirnya ketemu juga. Ini nih senengnya ketemu temen lama yang jarang banget ketemu, sekalinya ketemu, ketemunya di luar negeri. Hihihi.

Keluar dari bangunan utama bandara, kita masuk di sebuah mall yang namanya gateway@klia2. Tidak susah untuk menemukan beberapa moda transportasi yang bisa membawa kita ke Kuala Lumpur, sebab semua petunjuk tersebut sudah terpampang dengan jelas. Tinggal ikuti saja setiap petunjuk untuk menuju pemberhentian teksi, stasiun KLIA Transit dan KLIA Ekspres, ataupun platform bas. 

Kali ini, atas nama penghematan, kami lebih memilih menggunakan bas untuk mencapai Kuala Lumpur. Dari Balai Ketibaan, cukup berjalan lurus mengikuti petunjuk dan turun ke level 1. Jangan lupa untuk membeli terlebih dahulu tiket bas di kaunter yang tersedia. Harga tiket bas dari klia2 dengan tujuan KL Sentral adalah RM 12, dengan menggunakan Skybus. Ada beberapa platform tempat keberangkatan bas, jadi perhatikan jangan sampai salah naik bas. Kalau tidak yakin, tanya saja ke mas-mas yang periksa tiket sebelum naik bas.

Bas yang kita naiki mempunyai layout kanan 2 kursi, kiri 2 kursi. Suasana bas layaknya bus DAMRI yang ada di Indonesia. Walaupun minim hiburan dalam bas, tapi cukup nyaman untuk perjalanan dari klia2 ke KL Sentral. Tas atau koper bisa ditaruh di tempat penyimpanan bagasi di bawah bas.

Rame juga basnya, tapi lumayan nyaman untuk perjalanan satu jam.

Perjalanan dari klia2 ke KL Sentral memakan waktu selama satu jam. Dari klia2 ke KL Sentral melewati highway yang mempunyai pemandangan pepohonan kelapa sawit sepanjang jalan. Untuk sesaat gue merasa nggak kayak di luar negeri sih, rasanya sama aja kayak ngelewati jalan tol Gempol-Surabaya.

Pintu Tol Mex Putrajaya

Selepas pemandangan pepohonan kelapa sawit yang membosankan, mulailah terlihat gedung-gedung tinggi dari kejauhan. Lintasan rel keretapi pun mulai terlihat. Keluar dari highway, kita memasuki jalan raya biasa yang mulai dipenuhi dengan mobil, bas dan motor. Tidak lama kemudian bas berhenti di KL Sentral bersebelahan dengan bas-bas lainnya.

Di sekitar KL Sentral

Turun dari bas, kami mengikuti iring-iringan penumpang lain. Waktu itu benar-benar buta tentang KL Sentral. Dari tempat pemberhentian bas, kami naik ke lantai atas menggunakan tangga yang lumayan tinggi, apalagi sambil bawa koper. Begitu sampai di atas, makin bingunglah kita melihat begitu ramainya KL Sentral ini. 

KL Sentral merupakan sebuah hub yang menghubungkan berbagai macam moda transportasi di Kuala Lumpur. Disini kalian bisa dengan mudah menemukan berbagai macam moda transportasi di Kuala Lumpur seperti Light Rail Transit (LRT), KL Monorail, KLIA Ekspres, KLIA Transit, KTM Komuter, KTM Antarabandar, bas dan teksi.

Tujuan kami selanjutnya adalah menuju hostel yang sudah kami pesan sebelumnya, di daerah Chinatown. Untuk menuju kesana, kami menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan turun di Pasar Seni. Tidak sulit untuk menemukan stesen LRT di KL Sentral ini, karena petunjuk tersedia dengan jelas. 

Harga tiket dari KL Sentral menuju stesen Pasar Seni adalah RM 1.30. Tiket bisa dibeli melalui mesin-mesin tiket yang tersedia di sekitar stasiun LRT. Tiket untuk LRT berbentuk token berwarna biru. Ketika masuk melalui gate, cukup tempelkan token di mesin gate dan tunggu pintu terbuka. Setelah melewati gate, kami segera naik ke platform keberangkatan LRT. Perhatikan jangan sampai salah pilih platform, untuk menuju Pasar Seni, pilih platform dengan tujuan akhir Gombak.

Tiket LRT berbentuk token berwarna biru.

Tidak diperlukan waktu lama untuk menunggu tren datang. Ketika tren telah datang, beri jalan dulu untuk penumpang yang akan turun, kemudian barulah kita bisa masuk. Dari KL Sentral ke Pasar Seni hanya berjarak satu stesen dengan lama perjalanan kurang lebih sekitar 5 menit.

Platform LRT di KL Sentral

To be continued…