#ShortEscape: Review Agosto Guesthouse Kuala Lumpur [RECOMMENDED]

Eps. 5: Review Hostel Agosto Guesthouse

Agosto Guesthouse

No. 208 Jalan Tun HS Lee, Kuala Lumpur, Malaysia, 51000

Nearest transportation access: Pasar Seni LRT Station, Kuala Lumpur Station, Pasar Seni Bus Hub

Rate: around IDR 75.000 per bed per night (dormitory room)

Facilities: Free WiFi, breakfast not included 

Tidak diperlukan waktu lama untuk sampai di stesen Pasar Seni, hanya 5 menit saja, karena hanya berjarak 1 stesen saja dari KL Sentral. Kami langsung keluar dari stesen ke Jalan Hang Kasturi. Seketika itulah kami bingung mau jalan ke arah mana. Dari pemberhentian bas Pasar Seni, kami berjalan ke arah kiri sampai ketemu Kasturi Walk. Nah loh, nyasar kan, belum ada niat ke Kasturi Walk malah udah nyampe duluan.

Akhirnya kita balik lagi ke arah stesen Pasar Seni, berhenti di dekat pemberhentian bas dan sedikit istirahat cari wangsit petunjuk jalan. Hasil screenshoot Google Maps yang sempet gue ambil nggak banyak membantu. Akhirnya gue suruh Nadia tubggu disitu dan gue jalan ke arah lain cari papan nama Jalan Sultan. Ternyata eh ternyata, Jalan Sultan tinggal lurus saja dari pemberhentian bas tadi. Mbok yo dari tadi to!

Setelah ketemu dengan Jalan Sultan, kami jalan lurus disitu dan di perempatan pertama belok kiri. Di sebelah kanan ada pekerjaan pembangunan MRT yang belum selesai. Nantinya, LRT akan terintegrasi dengan MRT yang stasiunnya terletak di bawah tanah. Setelah sampai di perempatan jalan, gue dengan mudah menemukan Agosto Guesthouse ini, walaupun minim embel-embel papan nama.

Pintu masuk Agosto Guesthouse, nah itu di sebelahnya ada 7-Eleven

Oh iya, Agosto Guesthouse ini udah gue pesen dari sebulan sebelumnya. Setelah survey, blogwalking dan baca-baca review, akhirnya dipilihlah hostel ini. Gue booking hostel melalui Traveloka, sebenernya bisa juga dari booking.comHostelWorld ataupun Agoda, tapi karena gue nggak punya kartu kredit, jadi lebih milih Traveloka aja. Waktu itu gue dapat harga Rp72.300,- per bed per malam, dengan fasilitas free WiFi tanpa sarapan.

Agosto Guesthouse ini tipikalnya seperti hostel di Kuala Lumpur pada umumnya. Menggunakan bangunan ruko lantai 2 dan 3, dan lantai 1 ruko digunakan untuk pertokoan. Ada tangga kecil disamping ruko untuk naik ke hostel ini. Pintu utama hostel menggunakan kunci otomatis dan bisa dibuka menggunakan access card. Berhubung kita belum punya access card, jadi tinggal pencet bel yang tersedia di depan pintu. Mungkin pada saat itu gue belum tau mekanisme pembukaan kunci pintu gimana, jadi setelah gue pencet bel, nggak ada orang yang ngebukain. Gue pencet berkali-kali tetep nggak ada yang ngebukain. Nggak lama dari dalam ada mas-mas penjaga hostel yang suruh gue buka pintu. Oalah ternyata setelah kita pencet bel, keluar suara ‘beep‘ dan pintu sudah unlocked. Ndeso!

Masuk ke dalam hostel kita harus lepas alas kaki. Sepatu atau sandal bisa disimpan di rak sepatu di sepanjang tangga. Disambut oleh mas-mas penjaga hostel yang kayaknya keturunan India. Orangnya lumayan ramah dan kita berkomunikasi menggunakan campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Gue menunjukkan bookingan Traveloka melalui handphone dan mas penjaga hostelnya langsung ngecek di komputer resepsionis. Kesan pertama gue dengan hostel ini adalah sama persis dengan foto yang ada di Traveloka, ya meskipun agak sempit sih aslinya. Dinding hostel ini dipenuhi dengan hiasan dinding dan info tempat wisata di sekitar hostel. Di keranjang resepsionis gue menemukan makanan favorit rakyat Indonesia, Indomie, yang bungkusnya tertera dalam bahasa Melayu. Yawla, jauh-jauh ke Kuala Lumpur nemunya Indomie juga.

Selerakuuu… Ini Mi Segera namanya…

Di pojokan ruangan ada tempat bersantai yang kayaknya tempatnya enak dibuat santai. Sayang sih nggak sempet nyobain ruang santainya. Di ujung sebelum tangga terdapat wastafel dan tandas a.k.a. kamar mandi. Masnya bilang kalau tandas di atas penuh bisa pakai tandas yang di bawah. Di belakang meja resepsionis ada kulkas, gue nggak yakin minuman apa saja yang mereka jual tapi yang pasti ada tulisan BEER tertempel di pintu kulkas. Mereka juga menjual beberapa alat mandi dan universal adaptor. Di sini nggak ada tempat makan soalnya hostel juga nggak menyediakan sarapan. Beberapa kamar ada di lantai 2 ini, dan kamar yang lain ada di lantai 3.

81781277
Resepsionis hostel di lantai 2. Gambar diambil dari booking.com

Setelah mas penjaga hostel tadi ngubek-ngubek komputer dan buku catatan hostel, dia memberitahu kita kalau bookingan kita nggak ada dan sudah dibatalkan. Jederrrr! Ini nggak ada pemberitahuan apa-apa kok bookingan gue dibatalkan? Mimpi apa gue semalem, gue nggak mau keluar duit lagi buat booking hostel lagi. Kemudian gue keluarkan print out booking dari Traveloka yang ada nomor bookingnya. Masnya kemudian ketak-ketik lagi dan bilang kalo bookingan kita ada. Fiyuh, untunglah mas ketemu, kalo nggak, mungkin kita ngemper di depan hostelnya mas nih.

24
Tempat santai di lantai 2. Gambar diambil dari hostelworld.com

Masnya kemudian minta paspor kita berdua. Kemudian masnya minta uang deposit sebesar RM 50. He? Ada uang deposit juga ya. Duh makin kere lah kita ini. Bawa uang cuma seberapa masih dimintain deposit juga. Katanya sih deposit ini buat access card sama kunci loker. Okelah, berarti nanti harus ngirit nih. Kemudian kita dikasih access card buat buka pintu depan, kunci kamar dan kunci loker.

Masnya kemudian ngantar kita ke kamar yang terletak di lantai 3. Ada sebuah tempat santai lain di lantai 3 ini, tampaknya lebih cozy dan tersedia beberapa permainan papan dan juga ada televisi. Kamar kita terletak di ujung depan, pas di depan AC yang pada waktu itu udah dinyalakan. Di dalam kamar terdapat 4 kasur bertingkat, jadi total ada 8 kasur. Gue dapet kasur di atas dan itu naiknya agak susah gitu. Loker terletak di bawah kasur paling bawah dan ukurannya lumayan besar.

Bed bagian atas. Keadaan kamar agak gelap karena tidak ada jendela.

Fasilitas di setiap bed lumayan lengkap. Sebut saja bantal, selimut, lampu baca, kipas angin dan colokan listrik sebanyak 3 buah. Oh iya, colokan listrik di Malaysia bentuknya yang kaki tiga, pastinya berbeda dengan Indonesia, jadi jangan lupa bawa universal adaptor. Waktu itu di bed gue nggak ada kipas anginnya, tapi nggak jadi masalah, AC nya udah dingin banget soalnya. Oh iya, di masing-masing bed juga ada tirainya, jadi walaupun tidur di dorm tapi kita masih punya privasi masing-masing. Kan ada tuh orang yang risih kalo diliatin orang lain pas tidur, termasuk gue sih.

1031378_16072617160044952320
Tempat santai di lantai 3. Gambar diambil dari Agoda

Kamar mandi di lantai 3 ini ada di bagian belakang dan terdapat 3 bilik. Ada wastafel dan cermin berukuran besar di depan bilik kamar mandi. Bilik toilet dan bilik kamar mandi gabung jadi satu. Jadi, di dalam satu bilik ada shower, toilet duduk dan wastafel beserta cermin. Hostel tidak menyediakan perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, shampo dan sikat gigi, jadi jangan lupa bawa sendiri ya! Kamar mandi dalam keadaan sangat bersih. Tersedia juga air panas untuk mandi, tapi tidak bisa diatur tingkat kepanasannya, hanya ada satu saklar untuk menyalakan mesin pemanas airnya. Waktu gue coba, memang keterlaluan panasnya. Akhirnya daripada jadi daging rebus, mending mandi pakai air dingin saja.

Overall, Agosto Guesthouse ini sangat gue rekomendasikan bagi kalian para backpacker yang cari tempat sekadar buat istirahat. Walaupun harganya dibawah Rp100.000,- per malam, tapi fasilitas nya lumayan lengkap. Gue pun merasa nyaman tidur di hostel ini. Bersih dan nggak berisik pula. Lokasi hostel ini pun sangat strategis. Dekat dengan stesen LRT Pasar Seni, stesen Kuala Lumpur dan pemberhentian bas Pasar Seni. Hostel ini juga lokasinya ada di Chinatown. Jadi tinggal jalan kaki aja, udah bisa ubek-ubek Central Market, Kasturi Walk dan Petaling Street. Kelaperan tengah malem pun gampang, bisa ngemil di 7-Eleven yang ada pas di sebelah hostel.

Intinya, VERY RECOMMENDED!

Catatan: Gue lupa nggak ambil banyak foto pas di hostel ini, jadi beberapa foto gue ambil dari beberapa website langsung berupa link, bukan reupload foto tersebut.

To be continued