#ShortEscape: Akhirnya Coba Penerbangan Internasional dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

The story continues here…

Eps. 2: Penerbangan Internasional dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Agak Membingungkan sih.

Setelah pesawat Sriwijaya Air yang membawa gue dari Manokwari berhenti dengan sempurna dan parkir di Remote Apron Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, gue langsung grusak grusuk ambil barang bawaan. Bukannya nggak bisa santai, tapi gue cuma antisipasi aja, siapa tau aja nanti di tengah jalan dari kedatangan ke pintu keberangkatan ada macet gara-gara si Komo lewat. 

Singkat kata setelah turun dari pesawat, naik bis dari Apron ke Terminal Bandara dan jalan dari pintu kedatangan ke pintu keberangkatan, gue ngos-ngosan. Iyalah, jauh mak! Di depan pintu keberangkatan gue siapkan paspor dan boarding pass yang udah gue cetak seminggu yang lalu di kantor. Hihihi. Ini nih enaknya melakukan web check-in dan cetak sendiri boarding pass, nggak perlu repot-repot antri lagi buat check-in dan bisa langsung melenggang cantik ke gate. 

Boarding pass AirAsia hasil cetak sendiri

Sebenarnya sih masih agak bingung dengan pengaturan keberangkatan tujuan internasional dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Biasanya untuk tujuan internasional mempunyai terminal sendiri, tetapi di Bandara Makassar ini terminal domestik dan internasional gabung menjadi satu. Mungkin bagi kalian yang baru pertama kali ke Bandara Makassar akan bingung melihat alur penumpang internasional di bandara ini. Tapi tenang nanti gue akan bagi tahapan-tahapan dan tips-tipsnya bagi kalian yang akan melakukan penerbangan internasional dari Bandara Makassar ini.

Setelah melenggang cantik sambil dadah-dadah ke penumpang lain yang masih checkingue ikuti alur seperti penumpang penerbangan domestik yaitu pemeriksaan badan dan barang bawaan. Untuk pemeriksaan ini, taruh handphone dan barang bawaan lain yang mengandung logam seperti jam tangan, wearable gadget, dompet, ikat pinggang dan lain-lain ke dalam mesin pemindai x-ray. Taatilah semua peraturan tersebut daripada disuruh balik untuk menaruh barang-barang yang gue sebut di atas tersebut ke mesin x-ray dan otomatis membuat antrian jadi tersendat.

Setelah lolos dari jeratan cinta segitiga pemeriksaan badan dan barang bawaan. Gue segera menuju ke gate 7 yang merupakan satu-satunya pintu keberangkatan untuk tujuan internasional. Gate 7 ini adalah gate paling ujung yang ada di Bandara Makassar ini. Lah dalah udah ngebut jalan ke gate 7 ternyata petugas imigrasi belum datang, dan otomatis gate belum dibuka. Paling kaget sih liat petugas imigrasi nya belum ada di tempatnya. Yaudah lah, itu artinya dikasih waktu buat leyeh-leyeh sambil jajan-jajan dulu, kan di dalem gate 7 ga ada gerai ataupun tempat makan. 

Petugas Imigrasi belum datang dan gate belum dibuka

Sekitar pukul 10.30 WITA, setengah jam sebelum waktu boarding, petugas imigrasi akhirnya datang dan gate 7 dibuka. Cuma ada 2 petugas imigrasi yang melayani untuk satu penerbangan ini, karena sepertinya untuk siang itu cuma ada satu penerbangan internasional. Karena cuma ada 2 petugas imigrasi, jadi antre untuk imigrasi lumayan lama. Sekitar 15 menit kemudian akhirnya gue dapat cap pertama di paspor baru gue ini. Bukan cap yang paling pertama sih, karena gue udah pernah dapat cap di paspor yang lama dulu. 

Not my very first passport stamp

Setelah pemeriksaan imigrasi, kita harus melewati pemeriksaan badan dan barang bawaan sekali lagi. Jadi total dari pertama masuk bandara sampai masuk gate ini gue udah melewati 3 kali pemeriksaan badan dan barang bawaan, tapi pemeriksaan kali ini lebih ketat. Sepatu gue pun harus dimasukkan ke mesin x-ray untuk dipindai. Beberapa air minum bawaan penumpang lain juga harus rela mereka buang bagi yang nggak sanggup untuk habisin saat itu juga. 

Nggak lama kemudian gue liat pesawat Garuda Indonesia Boeing 747-400 dengan rego PK-GSG baru mendarat. Pesawat ini sekarang udah dipensiunkan oleh pihak Garuda Indonesia. Waktu itu sih gue belum tau kalo pesawat jumbo jet ini mau pensiun. Tapi untung gue udah sempet ambil gambar pesawat favorit para avgeek ini, ya walaupun ambilnya dari dalam gate 7 dan kehalang sama beberapa tangga pesawat. Good bye Big Momma, you will be missed! 

Garuda Indonesia Boeing 747-400 PK-GSG, taken from Sultan Hasanuddin Intl Airport Gate 7

Sekitar pukul 11.00, proses boarding dimulai dan para penumpang dipersilahkan memasuki pesawat. Karena baru pertama kali naik AirAsia, gue baru tau kalo ada pembagian zona untuk para penumpang. Jadi yang boleh masuk pertama kali ke pesawat adalah penumpang yang duduk di hot seat, penumpang berkebutuhan khusus dan penumpang yang membawa anak-anak. Kemudian dipersilahkan penumpang yang berada di zona 1 sesuai yg tercetak di boarding pass mereka. Pikiran gue, pasti lama nih tunggu waktu masuk pesawat. Eh nggak taunya setelah penumpang zona 1 masuk semua, penumpang zona 3 yang didahulukan masuk pesawat. Gue pun lagi-lagi melenggang cantik ke pesawat.

Hello my very first AirAsia flight!

To be continued…

Oh iya, sesuai janji gue di atas, gue akan menjelaskan tahapan-tahapan dan beberapa tips bagi kalian yang akan melakukan penerbangan internasional pertama kali dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Check it out!

  1. Pertama-tama setiba di Bandara Makassar, segeralah lakukan checkin, demi mencegah keterlambatan. Tips: Lakukan web check-in atau mobile check-in dan cetak sendiri boarding pass kalian. Ini akan mempercepat dan mempermudah proses check-in kalian. Atau bagi kalian yang nggak sempat web check-in atau mobile check-in, kalian bisa melakukan check-in dari check-in kiosk milik AirAsia yang terletak tidak jauh dari konter checkin. Lain hal bagi kalian yang membawa bagasi, kalian tetap harus drop bagasi kalian di konter checkin.
  2. Nggak usah bingung cari alur untuk penumpang internasional, karena kalian akan tetap melalui terminal yang sama dengan penumpang domestik. Jadi, ikuti saja alur seperti penumpang domestik.
  3. Sebaiknya langsung menuju gate 7 yang terletak di paling ujung bandara. Jika, gate belum dibuka, sebaiknya tunggu di sekitarnya saja untuk mengurangi resiko keterlambatan.
  4. Jika antrean pemeriksaan imigrasi telah dibuka, mengantrelah dengan tertib. Persiapkan paspor kalian dan lepaskan topi, kacamata hitam atau aksesoris di sekitar kepala yang menghalangi petugas untuk melakukan pemeriksaan keimigrasian. Jangan menggunakan handphone dan mengambil gambar ketika pemeriksaan keimigrasian.
  5. Pada pemeriksaan badan dan barang bawaan terakhir, jika kalian menggunakan sepatu, petugas akan meminta sepatu kalian untuk dimasukkan ke mesin x-ray. Jangan lupa jika kalian membawa minum, segera habiskan minum kalian. 
  6. Pada saat boarding, untuk menghemat tenaga sebaiknya duduk saja dulu karena petugas akan memanggil penumpang untuk masuk ke pesawat sesuai dengan zona yang tertera di boarding pass. Jangan berdiri di depan pintu yang digunakan untuk masuk ke pesawat karena akan menghambat penumpang yang akan masuk dan memperlambat proses boarding. 

#ShortEscape: Another Flight with Sriwijaya Air

Eps. 1: Another flight with Sriwijaya Air

Hari Rabu, tanggal 15 Februari 2017, pukul setengah 5 pagi gue udah bangun dan mulai berdandan bersiap-siap. Di saat orang-orang lain tengah tidur sambil ngiler mimpi indah, gue udah grasak-grusuk ngecek barang-barang yang akan gue bawa. Setelah merasa diri cukup ganteng, pukul setengah 6 pagi gue meluncur dari kosan ke bandara, jaraknya cukup dekat sih, sambil guling-guling juga nyampek, tapi gue paling males sama yang namanya datang mepet kemudian lari-larian di bandara. Mending datang duluan kemudian bisa ngopi-ngopi cantik di bandara.

Bandara Rendani pada pukul 05.45 pagi, masih gelap dan masih sepi

Untuk bisa sampai di Kuala Lumpur, gue harus melakukan 2 kali penerbangan dan berganti maskapai di Makassar. Akan gue uraikan satu persatu detail penerbangan gue dari tempat gue bermukim saat ini, Manokwari, hingga sampai di Kuala Lumpur.

Airline: Sriwijaya Air
Flight: SJ-585
Route: Rendani Airport, Manokwari (MKW/WAUU) to Sultan Hasanuddin Airport, Makassar (UPG/WAAA)
Aircraft: Boeing 737-3L9
Aircraft Age: 23 years
Aircraft registration: PK-CKJ
Nose Name: Kemurahan 
Class of Service: Economy 
Seat Number: 11F
STD: 07.05 LT STA: 08.35 LT
ATD: 07.30 LT ATA: 09.10 LT

Sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam udah nggak ada hasrat untuk terbang dengan Sriwijaya Air sih, disamping udah bosen (udah 30 kali take off-landing dengan maskapai ini, bisa dilihat di flightdiary.net/ahmadmuzakky), juga agak deg-degan kalau terbang pake pesawat Baby Boeing milik mereka. Secara pesawat Baby Boeing milik mereka udah berumur 20 tahun ke atas, malah lebih tua daripada gue. Tapi, karena gue mau ngejar penerbangan selanjutnya yang berangkat siangnya dari Makassar dan nggak ada maskapai lain yang nyampek pagi-pagi dari Manokwari tujuan Makassar, jadi mau nggak mau  ya harus pakai maskapai ini lagi. Mereka juga nggak buruk-buruk amat kok. Apalagi gue suka banget liat pramugari mereka yang pake hijab, duh jadi adem ngeliatnya. Salut deh sama Sriwijaya Air Group yang udah selangkah lebih maju ngebolehin awak kabinnya untuk memakai hijab.

Pukul 05.45 pagi gue udah berdiri sambil agak ngantuk di depan konter checkin. Gak perlu antri lama, cuma sekitar 10 menitan gue udah berhasil dapat boarding pass Dan seperti biasa gue selalu minta windows seat, biar nggak bosen selama penerbangan dan bisa jepret-jepret ambil foto.

Papan nama konter check-in Sriwijaya Air

Nggak buang-buang waktu, setelah checkin gue langsung naik menuju ruang tunggu keberangkatan, berharap bisa leyeh-leyeh sebentar karena tadi malam cuma bisa tidur sekitar 4 jam. Nggak lama kemudian, pesawat yang akan membawa gue ke Makassar tiba. Lihat di jam tangan, waktu menunjukkan pukul 06.10, datang lebih awal dari jadwal berarti di pikiran gue nanti berangkat ke Makassar juga bisa lebih cepat dari jadwal.

Boarding Pass Sriwijaya Air yang bentuknya unik, berorientasi portrait dan memanjang ke bawah.

Menurut boarding pass, proses boarding dimulai pada 06.35, tapi ternyata sampai pukul 07.00 pun boarding belum dimulai. Walah bakalan delay nih. Waktu itu sih cuma bisa berharap pesawat nggak kenapa-napa dan bisa lanjut balik ke Makassar. Takutnya lagi kalau delay lama kan nggak kekejar penerbangan yang berikutnya.

Alhamdulillah pukul 07.15 kita udah mulai boarding. Dengan semangat 45 gue bawa backpack gue jalan kaki menuju pesawat, nggak ding, ke pesawatnya naik bus kok.

Perjalanan dari gedung terminal menuju ke pesawat

Tepat pada pukul 07.30 pesawat udah mulai taxi ke runway. Sembari pesawat taxi, para awak kabin melakukan peragaan keselamatan penerbangan. Oh iya di Bandara Rendani Manokwari ini nggak ada ritual pushback loh, jadi pesawat langsung maju aja dari apron langsung berbelok taxi menuju ke runway. Jadi inilah enaknya duduk di Windows seat, gue yang avgeek amatiran ini selalu suka perhatikan bagaimana pergerakan sayap pesawat ketika take off ataupun landing. Gue pun bersiap keluarkan iPhone 5s gue buat ambil beberapa gambar dan video timelapse. Tidak lama kemudian pesawat takeoff dari arah runway 17.

Gerimis manja menemani penerbangan pagi itu

Sriwijaya Air yang mempunyai layanan “Medium Service” selalu menyediakan makanan ringan untuk penerbangan di bawah 2 jam dan makanan berat untuk penerbangan di atas 2 jam. Satu jam setelah tinggal landas, awak kabin mulai membagikan makanan kepada para penumpang. Sebenernya gue juga nggak tau sih kapan mereka bagiin makanannya, tau-tau aja udah ada makanan di table tray gue. Kali ini menu yang mereka sajikan adalah nasi dengan lauk telur dadar dan mihun. Tidak lupa tambahan pendamping makanan berupa kerupuk, pencuci mulut berupa agar-agar dan segelas air mineral. Tidak terlalu berharap banyak soal rasa dari makanan yang mereka sajikan. Tapi seenggaknya bisa ganjel lapar lah.

Makanan yang disajikan dalam penerbangan Sriwijaya Air

Selesai menghabiskan makanan, gue menghabiskan sisa penerbangan dengan menikmati keindahan alam mimpi alias tidur. Tapi ya seperti biasanya, gue tidur cuma tidur tidur ayam saja. Entah kenapa paling nggak bisa tidur kalau di pesawat.

Another windows view

Pukul 08.45 waktu Makassar pesawat sudah mulai mengurangi ketinggiannya, menandakan bahwa akan segera mendarat. Terlihat dari atas cuaca Makassar pada saat itu, mendung di beberapa tempat dan agak gerimis manja. Tepat 15 menit kemudian pesawat mendarat di runway 03 Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar di Maros

Welcome again Makassar!

To be continued

#ShortEscape: Preparation

Akhirnya gue mempunyai hasrat menulis lagi, setelah menyelesaikan perjalanan singkat padat dan berisi gue minggu lalu. Hasrat menulis ini keluar menggebu-gebu dengan pikiran agar cepat tertuangkan dan ngggak menguap begitu saja di pikiran. Rangkaian perjalanan singkat padat dan berisi ini gue beri nama #ShortEscape, sesuai dengan jangka waktu yang gue gunakan untuk melakukan perjalanan refreshing ini.

Jadwal sudah ditentukan sejak tiga bulan lalu, tanggal 15 sampai 20 Februari adalah tanggal yang gue pilih untuk perjalanan ini, bertepatan dengan Hari Pemilihan Kepala Daerah emang, tapi karena gue nggak punya hak pilih jadi santai aja mau pergi di tanggal itu. Tiket sedikit-sedikit dicicil sejak tiga bulan lalu. Iya dicicil karena rangkaian perjalanan gue ini agak panjang dipanjang-panjangkan sih. Jadi, rute perjalanan gue kali ini yaitu:

  • MKW-UPG, 15 Feb 2017, Sriwijaya Air
  • UPG-KUL, 15 Feb 2017, AirAsia
  • KUL-SIN, 17 Feb 2017, Tigerair Asia Airways
  • SIN-KUL, 19 Feb 2017, Jetstar Asia
  • KUL-CGK, 19 Feb 2017, KLM Royal Dutch Airlines
  • CGK-UPG, 19 Feb 2017, Lion Air
  • UPG-SOQ, 20 Feb 2017, Batik Air
  • SOQ-MKW, 20 Feb 2017, Wings Air

Kalo ada yang bertanya kenapa rutenya mbulet gitu karena emang maunya gitu sih. Kalo ada yang bertanya kenapa gue harus balik dulu ke Kuala Lumpur padahal tujuannya Jakarta karena gue pengen naik Boeing 777 nya KLM sih. Hehehe. Kalo ada yang bertanya kenapa mulainya dari MKW ya karena saat ini gue lagi terdampar di MKW sih.

Oh iya, perjalanan kali ini gue ditemani sama temen SMA gue, si Nadia. Gue berhasil mengajak mempengaruhi dia buat ikutan jalan sama gue. Bukan tanpa alasan sih ngajak dia, soalnya menurut gue dia orangnya asik dan suka jalan jalan. Kan nggak mungkin gue ngajak orang yang hobinya ngebo. Dalam perjalan ini pun, secara otomatis dan aklamasi gue terpilih jadi tour leader, soalnya gue yang dianggap banyak mengerti dari hasil blogwalking selama ini. Ya semoga aja nanti nggak nyasar, wong kita sama-sama belum pernah ke Kuala Lumpur sama Singapura kok.

Sejak November 2016, gue udah mulai melakukan persiapan. Walaupun baru blogwalking nyari-nyari informasi buat backpackeran yang hemat biaya sih, tapi yang penting udah tahu gambarannya dulu kan. Itinerary mulai dibikin berbekal dari informasi yang didapat dari blogwalking.

Itinerary pun gue buat sedetail mungkin, lengkap dari objek wisata yang dikunjungi, waktu dan durasi kunjungan, anggaran untuk makan sampai anggaran untuk transportasi. Untungnya semua informasi tersebut bisa gue dapatkan secara gampang dan jelas. Gue maunya perjalanan ke luar negeri pertama ala backpacker ini berjalan mulus semulus paha gue dan tanpa membuat gue jadi orang ilang di negeri orang. Memang bukan perjalana pertama gue ke luar negeri, tapi yang kali ini beda, soalnya semua gue persiapkan sendiri.

Baca juga: #flashback Pertama Kali Ke Luar Negeri

Setelah itinerary jadi, gue mulai nyicil pesen tiket pesawat dan pesen hostelnya. Untuk tiket pesawat gue masih mengandalkan Traveloka sebagai rujukan untuk melihat harga tiket pesawat saat itu. Tapi kemudian gue menemukan Online Travel Agent lain sebagai alternatif untuk mencari diskon dan harga yang lebih murah, bisa dicek di Airpazpergi.comReservasiPanorama Tourstiket.com, dan lain-lain. Untuk pemesanan hostel gue masih mengandalkan Traveloka, karena beberapa penyedia jasa pemesanan hotel seperti Agodabooking.com dan Hostelworld pemesanannya menggunakan kartu kredit, sementara gue yang apalah apalah ini mau ngajuin kartu kredit aja ditolak karena belum cukup umur.

Selain mulai nyicil tiket pesawat dan hostel, gue juga mulai cari-cari rute di sekitar hostel yang akan diinapi. Segala rute jalan kaki dari stasiun LRT/MRT terdekat ke hostel hingga rute jalan kaki di sekitar hostel untuk cari makan. Berbekal Google Maps, gue screenshot rute-rute tersebut soalnya nanti di luar negeri sana gue berpikiran akan kesulitan untuk terhubung ke internet, sehingga lebih gampang untuk cari arah.

Selama tiga bulan menuju keberangkatan, beberapa kali gue ngubah itinerary demi terciptanya perjalanan yang aman, nyaman dan tentram. Beberapa kali pula ganti hostel yang akan dipesan, menyesuaikan budget dan pertimbangan lain. Nggak lupa juga buat tukar uang dari Rupiah ke Ringgit dan Dollar Singapura. Akhirnya semua tiket pesawat, hostel dan itinerary menjadi fix dua minggu sebelum keberangkatan.

Packingnya bagaimana? Untuk urusan packing, gue selalu packing di saat-saat terakhir, malamnya sebelum berangkat gue baru mulai packing dan alhasil kelabakan cari-cari barang yang belum ada. Untuk perjalanan kali ini, gue cukup bawa satu backpack dan satu waist bag yang bisa juga dipakai jadi shoulder bag. Kedua tas ini gue dapatkan di goodstyleishere.goodstore.id. Barang yang gue bawa pun nggak banyak, yang penting cukup untuk 5 hari lah. Menurut gue barang yang paling penting untuk dibawa ketika ke luar negeri adalah paspor beserta visa (ya iyalah), duit yang cukup, chargerpowerbank, dan universal adaptor. Karena tanpa hal-hal tersebutlah kalian tidak akan bisa hidup di luar negeri. Tambahan kamera yang mumpuni jika kalian nggak mau melewatkan berfoto ria di luar negeri.

To be continued…

Pulau Mansinam, Pusat Peringatan Pekabaran Injil di Tanah Papua

​Johann Gottlob Geissler dan Carl Willem Ottow adalah dua misionaris asal Belanda dan Jerman yang menjadi orang asing pertama yang datang di tanah Papua. Pada 5 Februari 1855 mereka mendaratkan kakinya di Pulau Mansinam, kemudian berlutut dan berdoa, “im gotes name tu betraten wir das land“, yang artinya, “dengan nama Tuhan kami injak tanah ini“.

Sebagai misionaris, mereka bertugas untuk memberitakan Injil kepada masyarakat Papua yang kalau itu dianggap belum mengenal peradaban. Tidak hanya mengajarkan Injil, mereka juga mengajarkan berbagai keterampilan lain. 

HUT Pekabaran Injil ke-162 di Tanah Papua
Hingga kini, masyarakat Papua setiap tanggal 5 Februari memperingati sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua. Hari ini, tanggal 5 Februari 2017, gue ikut berlayar ke pulau seberang untuk sekedar menikmati perayaan yang tahun ini adalah perayaan ke-162 tahun.

Perjalanan kali ini dimulai dari pelabuhan rakyat di daerah Kwawi, Manokwari. Sempat mendapat sedikit kemacetan di depan Kantor Klasis GKI Manokwari dan di depan Gereja Elim Kwawi karena padatnya pengunjung yang ingin menyeberang ke pulau seberang. 

Di dermaga telah bersiap beberapa kapal kecil milik rakyat yang siap mengantarkan kita. Kali ini nggak perlu tanya-tanya harga atau nego biaya sewa kapal, karena tarif sekali jalan dari Kwawi ke Pulau Mansinam dipatok Rp10.000,-. Jadi, kita tinggal pilih mau naik kapal yang mana. Kapalnya sama aja kok, nggak ada kapal pesiar disini, pilihannya ada kapal yang beratap sama yang terbuka. Dua-duanya sama, sama-sama bikin deg-degan buat yang jarang banget naik kapal.

Perjalanan menuju Pulau Mansinam
Dibutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit perjalanan menggunakan kapal kecil dari daerah Kwawi ke Pulau Mansinam. Lain cerita jika kamu memutuskan untuk berenang. Mungkin 2 jam baru sampai ditambah kembung minum air laut. Karena hari ini lagi rame-ramenya masyarakat yang pergi ke Mansinam, maka dibutuhkan waktu sedikit lebih lama sekadar untuk kapal bergantian bersandar di bibir pantai Pulau Mansinam.

Kedatangan di Pulau Mansinam disambut dengan Tugu Peringatan Kedatangan Ottow dan Geissler. Di tugu ini terdapat beberapa patung yang menjadi andalan objek selfie para pengunjung. Di antaranya adalah patung Ottow dan Geissler yang berdiri menghadap ke lautan, ada juga patung Ottow dan Geissler sedang berlutut memanjatkan doa, patung dua buah malaikat yang mengapit sebuah salib berukuran besar dan sebuah diorama yang terletak di bagian belakang yang menceritakan kejadian pertama kali Ottow dan Geissler datang ke Pulau Mansinam.

Ottow dan Geissler, maaf nggak tau yang mana Ottow yang mana Geissler

Doa yang diucapkan Ottow dan Geissler ketika pertama kali mendarat di Pulau Mansinam
Setelah puas selfie menikmati keindahan Kota Manokwari dari kejauhan, gue bergegas menuju pusat acara. Pusat acara digelar di depan Gereja Tua peninggalan Ottow dan Geissler. Awalnya nggak terlalu tertarik dengan isi acaranya karena kebanyakan sambutan, tapi semua berubah ketika negara api menyerang melihat seseorang yang nggak asing. Beliau adalah Walikota Surabaya yaitu Ibu Tri Rismaharini. Rupanya beliau menjadi bintang tamu pada peringatan tahun ini. Pengen foto sih, tapi apalah daya hamba, tak kuat menahan desak-desakan dengan banyaknya masyarakat yang ingin berfoto juga. Sementara itu, di belakang tempat acara, banyak masyarakat berkumpul di sekitar sumur tua di sebelah gereja untuk mendapatkan air dari sumur tersebut.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, jadi artis dadakan
Setelah menyerah dari kerumunan warga yang ingin berfoto dengan Ibu Risma, akhirnya memutuskan untuk langsung pergi ke ikon dari pulau ini saja. Ya ikon tersebut adalah Patung Kristus Raja yang terletak di titik tertinggi dari pulau ini. Untuk mencapai Patung Kristus, kita harus trekking melalui jalan yang tersedia sepanjang kurang lebih 1km. Siapkan tenaga ya, karena jalan agak nanjak malah agak curam di satu titik malah. 

Di jalan menuju ke Patung Kristus, sebenarnya ada beberapa objek lain yang bisa dikunjungi, seperti Rest Area dan Gereja yang berukuran lebih besar dan lebih indah. Gereja ini juga memiliki halaman yang luas di depannya. Dari titik ini kita bisa melihat Kota Manokwari dengan jelas dari ujung hingga ke ujung lain. Tapi karena banyaknya pengunjung dan kelelahan nanjak, jadi nggak sempet untuk mampir.

Sampai di lokasi Patung Kristus berada, ternyata disana sudah ada banyak sekali masyarakat. Patung yang diresmikan pada tahun 2014 ini menjulang dengan gagahnya seakan menyambut semua orang yang datang berkunjung ke pulau ini. Karena terlalu ramai, akhirnya ambil gambar nggak bisa maksimal dan sisanya cuma berkeliling di sekitarnya saja. Setelah cukup puas berada di atas, akhirnya memutuskan untuk turun saja. 

Patung Kristus Raja
Hal yang paling gue suka ketika ke Pulau Mansinam adalah bisa ambil gambar yang cantik-cantik, bahkan dengan kamera ponsel saja. Perpaduan antara Patung Kristus dan latar belakang langit berawan selalu menjadi objek foto favorit.

Kunjungan kali ini adalah kunjungan gue ke empat kalinya ke Pulau Mansinam. Banyak sekali perubahan dari pertama kali gue kesini di akhir tahun 2014 lalu. Harapannya sih semoga kedepannya fasilitas umum bisa lebih baik lagi dan masyarakat yang berkunjung lebih sadar untuk menjaga apa yang telah ada.

Nyiur di sekitar Pulau Mansinam

Aktivitas di sekitar Pulau Mansinam menjelang sore hari
Intinya nggak ada kata bosan untuk berkunjung ke Pulau ini. Mansinam selalu memberi penyegaran pikiran dengan keindahan alamnya yang memang belum terlalu tersentuh manusia. Sangat tidak lengkap jika berkunjung ke Kota Manokwari tanpa mampir sebentar di Pulau Mansinam. Jadi, kapan kamu ke Pulau Mansinam?

Kantor Gubernur? Asyik Juga Kok

Sore-sore lagi gabut, nggak ada kerjaan dan rasanya pengen jalan kemana gitu. Mau ke pantai tapi udah agak bosen ,ceileh, dan ingin cari tempat jalan-jalan lain. Akhirnya diputuskan ke Kantor Gubernur aja. Emang mau ngapain ke Kantor Gubernur? Ada hiburan ya disana? Eits jangan salah, ini bukan bangunan biasa loh. Jangan dilihat dari namanya aja Kantor Gubernur, tapi punya daya tarik tersendiri.

Keren kaann??

Sebagai ibukota dari Provinsi Papua Barat, Kantor Gubernur terletak di kota Manokwari. Tapi jangan salah, Papua Barat memiliki Kantor Gubernur yang bisa dibilang salah satu Kantor Gubernur Termegah di Indonesia loh.

Kantor ini terletak di atas bukit di daerah Arfai, Distrik Manokwari Selatan. Perlu waktu sekitar 20 menit untuk mencapai tempat ini jika mengendarai sepeda motor atau mobil dari pusat kota Manokwari, atau dua jam lebih jika ingin jalan kaki, atau seharian jika kamu memutuskan untuk ngesot sepanjang jalan sambil berhenti buat jajan gorengan. Memang terlihat agak jauh karena untuk menuju ke tempat ini memang jalannya agak memutar. Sebelum mencapai kantor Gubernur, akan didapati banyak kantor-kantor lain di sekitarnya. Dan memang yang menjadi puncaknya adalah Kantor Gubernur ini.

Bangunan ini terdiri dari 5 lantai dan berbentuk bintang kecil di langit yang biru yang memiliki 6 sudut. Bentuk bintang ini akan terlihat jelas jika dilihat dari atas, bisa terlihat jelas juga ketika kita naik pesawat dan melewati di atas gedung ini. Desain eksterior bangunan ini terlihat sangat indah, tapi sayang belum berkesempatan untuk melihat interiornya. Menurut pengamatan dari beberapa foto temen-temen sih desain interiornya nggak kalah mewah dengan hotel bintang lima. Yang tak kalah mewah lainnya adalah bangunan ini memiliki sebuah helipad di bagian atas gedung.

Di bagian depan gedung terdapat sebuah tugu yang berbentuk Burung Kasuari dan tulisan “Pemerintah Provinsi Papua Barat” di bawahnya mengelilingi sebuah bola. Di belakangnya juga terdapat tulisan “Kantor Gubernur Papua Barat” dalam ukuran segede gaban. Dua ikon inilah yang paling sering jadi sasaran foto-foto para pengunjung disini.

Foto kekinian ala Papua Barat

Dari depan kantor ini juga kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Kantor-kantor lain yang terletak di bawah Kantor Gubernur ini terlihat rapi berdere secara teratur. Di kejauhan juga terlihat lautan lepas yaitu Teluk Doreri. Background Pegunungan Arfak pun menambah indahnya pemandangan dari sini.

Pada sore hari di akhir Minggu, banyak sekali masyarakat sekitar dan wisatawan yang berkunjung kesini. Rata-rata mereka menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan bangunan ini. Terlihat juga beberapa anak-anak yang memanfaatkan jalan di sekitar bangunan ini untuk bermain sepatu roda dan sepeda. Bahkan biasanya di depan kantor-kantor bagian bawah sana ada ajang trek-trekan sepeda motor. Pokoknya rame juga disini kalau pas akhir minggu. Kalau pas hari kerja juga rame, rame sama orang kerja. Hahaha.

Pemandangan dari depan Kantor Gubernur Papua Barat

So, nggak ada salahnya juga menghabiskan sore hari di tempat ini. Kalau bosan sama tempat wisata mainstream, tempat inilah jawabannya untuk cari tempat yang anti-mainstream. Dan juga, jangan lagi menganggap Papua itu daerah yang tertinggal, buktinya di tanah Papua ini ada salah satu bangunan Kantor Gubernur Termegah se Indonesia. Jadi, kapan kamu kesini?

#flashback Pertama Kali Ke Luar Negeri

Welcome to Guangzhou

Pengalaman pertama? Pasti ada sesuatu yang seru, menarik dan nggak bisa dilupakan ketika punya pengalaman pertama. Apalagi pengalaman pertama ke luar negeri. Pasti pikiran sudah melanglang buana, berimajinasi tentang ‘asyiknya’ luar negeri.

Emang sih pengalaman pertama ke luar negeri gue bukan sebagai ‘traveller’ atau ‘backpacker’ yang ngerencanain sendiri semua perjalanan mulai berangkat dari rumah sampai balik ke rumah lagi. Pengalaman pertama gue ke luar negeri cuman sebagai orang yang tinggal terima enaknya doang. Pada saat itu sih gue sebagai salah seorang chorister Enharmonic Singers dalam rangka mengikuti 1st Xinghai Prize International Choir Championships 2012 di Guangzhou, Tiongkok. Tapi berkat pengalaman pertama ini, gue jadi ingin dan ingin lagi pergi ke luar negeri, walaupun sebagai traveller kere.

Lanjutkan membaca “#flashback Pertama Kali Ke Luar Negeri”

Urus Paspor? Online Saja!

Update: Pembuatan maupun perpanjangan Paspor secara online sudah tidak berlaku lagi, namun sekarang digantikan dengan antrian Paspor secara online.

Pasporku yang lama habis April 2017, tapi karena mumpung lagi pulang kampung dan berkas-berkas semua ada di rumah, jadi pas pulang kampung kemarin sekalian perpanjang paspor. Sebenarnya perpanjang paspor belum rencana kemana-mana sih, cuman sayang aja kalo gak diperpanjang.

Setelah cari-cari informasi kesana kemari, ternyata bisa perpanjang paspor secara online, yah walaupun nggak sepenuhnya online sih. Kalau bikin paspor yang dulu, karena datangnya serombongan jadi nggak sepenuhnya ngerti cara bikin paspor. Jadi, perpanjang paspor yang kali ini cuma belajar dari blog-blog yang membahas cara perpanjang paspor. Sisanya cuman dengan tekad dan niat. Ceileh. Lanjutkan membaca “Urus Paspor? Online Saja!”