#ShortEscape: Naik AirAsia, Cara Gampang dari Makassar ke Luar Negeri

Eps. 3: Flight Review AirAsia AK-333 Makassar – Kuala Lumpur

Airline: AirAsia 

Flight Number: AK-333

Route: Sultan Hasanuddin International Airport Makassar (UPG/WAAA) to Kuala Lumpur International Airport (KUL/WMKK)

Aircraft: Airbus A320-216

Aircraft Registration: 9M-AJV 

Aircraft Age: 7.3 years

Class of Service: Economy 

Seat Number: 15A

STD: 11.45 LT STA: 11.40

STA: 14.55 LT ATA: 14.35

Seorang cewek memakai baju putih yang ditutupi dengan blazer ketat warna merah menyala dibalut dengan rok seukuran di atas lutut yang berwarna merah menyala juga menyambut para penumpang di pintu pesawat. Ya, dia adalah flight attendant atau orang Indonesia biasa sebut ‘pramugari’ dari penerbangan AirAsia yang gue tumpangi ini. Kalau dilihat-lihat dari bentuk wajahnya sih kayaknya doi beretnis India, nggak sempat liat namanya di name tag nya, tapi di name tag nya berbendera Malaysia. Dia terlihat cantik dengan rambut panjang berwarna kecoklatan, kulit eksotis khas India dan dibalut seragam AirAsia tadi. #salahfokus

Keadaan di dalam kabin pesawat waktu gue masuk masih keliatan agak sepi, berarti belum banyak penumpang yang naik. Dengan segera gue menuju seat 15A, seat yang memang gue pesen duluan melalui website AirAsia demi terciptanya penerbangan yang nyaman. Ya, karena AirAsia adalah LCC dan kursi pun dijual maka demi mendapatkan windows seat gue rela mengeluarkan duit 20 ribu buat beli seat tersebut. 

Setelah menemukan seat gue dan menyimpan ransel di tempat penyimpanan bagasi di atas tempat duduk, gue duduk manis di windows seat berharga 20 ribu tersebut. Seat 15A terletak pas di belakang hot seat yang terletak di emergency exit. Dari seat ini bisa terlihat Garuda Indonesia Boeing 747-400 yang parkir di sebelah kiri pesawat ini, tapi karena di luar lagi gerimis manja, jadi gagal dapat foto pesawat jumbo jet tersebut yang jelas.

Pesawat jumbo jet Garuda Indonesia Boeing 747-400 PK-GSG yang telah dipensiunkan

Satu hal yang menurut gue unik adalah penggunaan Bahasa Melayu dalam setiap announcement yang diberikan oleh kru kabin. Sebenarnya nggak aneh sih, tapi tepatnya nggak biasa dengar aja. Tau sendiri kan kalau menurut kita orang Indonesia, Bahasa Melayu itu memiliki pemilihan kata yang menurut kita agak kurang pas, atau bahkan kita merasa asing dengan beberapa kata dalam Bahasa Melayu, seperti puan-puan, sabuk keledah, pintu kecemasan, dan lain-lain. Ada yang tau arti dari kata-kata di atas?

Tepat pukul 11.40 WITA, pesawat mulai didorong mundur. Para kru kabin mulai sibuk mempersiapkan untuk lepas landas dan bersiap melakukan peragaan keselamatan penerbangan. Karena ini pesawat Malaysia dengan penerbangan menuju Malaysia, maka penjelasan peragaan keselamatan penerbangan dilakukan dalam dua bahasa, Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Sama-sama ngertinya cuman dikit-dikit. Hihihi.

Wing View AirAsia Airbus A320-216 9M-AJV

Pesawat kemudian takeoff dari runway 03. Sekitar 15 menit kemudian lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dimatikan, yang artinya pesawat sudah mencapai ketinggian jelajah. Gue mulai ubek-ubek apa yang ada di seat pocket di depan gue. Ada 3sixty, majalah penerbangan milik AirAsia, ada BIG Duty Free katalog duty free, ada Santan, buku menu makanan yang tersedia dalam penerbangan dan ada kartu petunjuk keselamatan. 

Santan, Flavours of Asian

Yang paling menarik menurut gue sih buku menunya, Santan. Liatin menunya satu persatu membuat gue makin laper aja. Untungnya udah pesan pre-book meal. Kenapa untung? Pertama karena harga lebih murah dibanding jika beli langsung di pesawat. Waktu itu gue beli seharga Rp33.900,- sudah termasuk minuman yang bisa dipilih antara air mineral, kopi atau soda. Kalau beli langsung, harganya RM 15 atau sekitar Rp45.000,- dan nggak dapet minuman. Kedua, persediaan makanan yang dijual itu terbatas, jadi kalau abis ya cuma bisa liatin orang yang udah dapat makan duluan. Kalo kita pesan pre-book meal, dijamin kita pasti dapat jatah kita. Oh iya, jangan lupa tunjukkan boarding pass ketika kru kabin membagikan pre-book meal.

Makanan yang gue pesen kali ini adalah salah “Signature Meals” dari AirAsia, yaitu Nasi Lemak Pak Nasser. Berikut adalah penjelasan tentang Nasi Lemak Pak Nasser yang gue dapat dari buku menu “Santan”.

Promotional Image di buku menu Santan, tapi nggak mungkin lah ya realitanya disajiin pake cobek

What’s that one meal that is hard to resist and you can have it anytime of the day?

Malaysia’s national dish, Nasi Lemak! More commonly consumed for breakfast, the aromatic gastronomic delight would tempt you no matter what time it is.

The traditional fragrant pandan (screwpine leaves) flavoured coconut rice is served with Pak Nasser’s special chili sambal (relish) and tender chicken rendang, accompanied with traditional condiments of fried anchovies, crunchy toasted groundnuts and a half of hard-boiled egg.

Every morsel is sure to delight your senses that will only leave you begging for more.

Wah dari penjelasan dan gambar di buku “Santan” makin penasaran sama makanan paling populer dan paling sering dipesan di penerbangan AirAsia ini. Mas-mas kabin kru kemudian meminta dan cek boarding pass gue. Kemudian dia memberikan Nasi Lemak dan segelas air mineral. 

Walaupun beda dari yang di buku menu, tapi rasanya juara

Nggak pake lama langsung gue cobain Nasi Lemak itu. Rasanya? Maknyuss kalau kata Pak Bondan Winarno. Banyak yang bilang kalau Nasi Lemak rasanya sama kayak nasi uduk, tapi menurut gue sih beda ya. Kalau nasi lemak ini rasa santannya lebih kerasa. Ditambah lagi dengan sambal khas nya yang rasanya pedas manis ini. Pokoknya kalau naik AirAsia wajib nyobain yang namanya Nasi Lemak Pak Nasser ini, kalau nggak pasti nyesel deh.

Selesai makan, gue mencoba menghabiskan waktu dengan tidur, sekalian mengumpulkan tenaga karena begitu sampai di Kuala Lumpur gue berencana langsung menjelajah kota. 

Sekitar pukul 14.10 LT (tidak ada perbedaan waktu antara Makassar dengan Kuala Lumpur) pesawat mulai menurunkan ketinggian. Para kru kabin juga mulai mempersiapkan untuk pendaratan. Daratan semenanjung Malaysia pun sudah mulai terlihat dari balik awan yang menggantung. Tampaknya cuaca sedang mendung di bawah sana.

Tepat pukul 14.30 pesawat mendarat dengan sempurna. Pesawat langsung berbelok menuju taxiway dan bergerak menuju apron gate L14. Cukup 5 menit waktu yang dibutuhkan pesawat sejak mendarat sampai terparkir sempurna di apron. Ini lah pertama kalinya gue melihat klia2 dengan pesawat AirAsia yang berjejer rapi di sekitarnya. AirAsia memang menguasai bandara klia2 ini. 

Hello klia2!
Parkir di sebelah AirAsia 9M-AQF

Setelah para penumpang mulai turun dari pesawat, gue pun juga ikut langsung turun. Sebenarnya pengen turun paling akhir biar bisa minta foto sama mbak-mbak kru kabin AirAsia sih, tapi karena gue ingat temen gue udah sampai duluan dan nungguin di luar, dan dia bilang kalo antri imigrasinya lama, maka gue mengurungkan niat mulia gue tersebut. Akhirnya hanya bisa senyum sama mbak-mbak kru kabin waktu keluar dari pesawat. Semoga suatu saat bisa terbang lagi dengan maskapai berbiaya rendah terbaik di dunia ini.

Hello Kuala Lumpur! I’m coming!

To be continued…

#ShortEscape: Another Flight with Sriwijaya Air

Eps. 1: Another flight with Sriwijaya Air

Hari Rabu, tanggal 15 Februari 2017, pukul setengah 5 pagi gue udah bangun dan mulai berdandan bersiap-siap. Di saat orang-orang lain tengah tidur sambil ngiler mimpi indah, gue udah grasak-grusuk ngecek barang-barang yang akan gue bawa. Setelah merasa diri cukup ganteng, pukul setengah 6 pagi gue meluncur dari kosan ke bandara, jaraknya cukup dekat sih, sambil guling-guling juga nyampek, tapi gue paling males sama yang namanya datang mepet kemudian lari-larian di bandara. Mending datang duluan kemudian bisa ngopi-ngopi cantik di bandara.

Bandara Rendani pada pukul 05.45 pagi, masih gelap dan masih sepi

Untuk bisa sampai di Kuala Lumpur, gue harus melakukan 2 kali penerbangan dan berganti maskapai di Makassar. Akan gue uraikan satu persatu detail penerbangan gue dari tempat gue bermukim saat ini, Manokwari, hingga sampai di Kuala Lumpur.

Airline: Sriwijaya Air
Flight: SJ-585
Route: Rendani Airport, Manokwari (MKW/WAUU) to Sultan Hasanuddin Airport, Makassar (UPG/WAAA)
Aircraft: Boeing 737-3L9
Aircraft Age: 23 years
Aircraft registration: PK-CKJ
Nose Name: Kemurahan 
Class of Service: Economy 
Seat Number: 11F
STD: 07.05 LT STA: 08.35 LT
ATD: 07.30 LT ATA: 09.10 LT

Sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam udah nggak ada hasrat untuk terbang dengan Sriwijaya Air sih, disamping udah bosen (udah 30 kali take off-landing dengan maskapai ini, bisa dilihat di flightdiary.net/ahmadmuzakky), juga agak deg-degan kalau terbang pake pesawat Baby Boeing milik mereka. Secara pesawat Baby Boeing milik mereka udah berumur 20 tahun ke atas, malah lebih tua daripada gue. Tapi, karena gue mau ngejar penerbangan selanjutnya yang berangkat siangnya dari Makassar dan nggak ada maskapai lain yang nyampek pagi-pagi dari Manokwari tujuan Makassar, jadi mau nggak mau  ya harus pakai maskapai ini lagi. Mereka juga nggak buruk-buruk amat kok. Apalagi gue suka banget liat pramugari mereka yang pake hijab, duh jadi adem ngeliatnya. Salut deh sama Sriwijaya Air Group yang udah selangkah lebih maju ngebolehin awak kabinnya untuk memakai hijab.

Pukul 05.45 pagi gue udah berdiri sambil agak ngantuk di depan konter checkin. Gak perlu antri lama, cuma sekitar 10 menitan gue udah berhasil dapat boarding pass Dan seperti biasa gue selalu minta windows seat, biar nggak bosen selama penerbangan dan bisa jepret-jepret ambil foto.

Papan nama konter check-in Sriwijaya Air

Nggak buang-buang waktu, setelah checkin gue langsung naik menuju ruang tunggu keberangkatan, berharap bisa leyeh-leyeh sebentar karena tadi malam cuma bisa tidur sekitar 4 jam. Nggak lama kemudian, pesawat yang akan membawa gue ke Makassar tiba. Lihat di jam tangan, waktu menunjukkan pukul 06.10, datang lebih awal dari jadwal berarti di pikiran gue nanti berangkat ke Makassar juga bisa lebih cepat dari jadwal.

Boarding Pass Sriwijaya Air yang bentuknya unik, berorientasi portrait dan memanjang ke bawah.

Menurut boarding pass, proses boarding dimulai pada 06.35, tapi ternyata sampai pukul 07.00 pun boarding belum dimulai. Walah bakalan delay nih. Waktu itu sih cuma bisa berharap pesawat nggak kenapa-napa dan bisa lanjut balik ke Makassar. Takutnya lagi kalau delay lama kan nggak kekejar penerbangan yang berikutnya.

Alhamdulillah pukul 07.15 kita udah mulai boarding. Dengan semangat 45 gue bawa backpack gue jalan kaki menuju pesawat, nggak ding, ke pesawatnya naik bus kok.

Perjalanan dari gedung terminal menuju ke pesawat

Tepat pada pukul 07.30 pesawat udah mulai taxi ke runway. Sembari pesawat taxi, para awak kabin melakukan peragaan keselamatan penerbangan. Oh iya di Bandara Rendani Manokwari ini nggak ada ritual pushback loh, jadi pesawat langsung maju aja dari apron langsung berbelok taxi menuju ke runway. Jadi inilah enaknya duduk di Windows seat, gue yang avgeek amatiran ini selalu suka perhatikan bagaimana pergerakan sayap pesawat ketika take off ataupun landing. Gue pun bersiap keluarkan iPhone 5s gue buat ambil beberapa gambar dan video timelapse. Tidak lama kemudian pesawat takeoff dari arah runway 17.

Gerimis manja menemani penerbangan pagi itu

Sriwijaya Air yang mempunyai layanan “Medium Service” selalu menyediakan makanan ringan untuk penerbangan di bawah 2 jam dan makanan berat untuk penerbangan di atas 2 jam. Satu jam setelah tinggal landas, awak kabin mulai membagikan makanan kepada para penumpang. Sebenernya gue juga nggak tau sih kapan mereka bagiin makanannya, tau-tau aja udah ada makanan di table tray gue. Kali ini menu yang mereka sajikan adalah nasi dengan lauk telur dadar dan mihun. Tidak lupa tambahan pendamping makanan berupa kerupuk, pencuci mulut berupa agar-agar dan segelas air mineral. Tidak terlalu berharap banyak soal rasa dari makanan yang mereka sajikan. Tapi seenggaknya bisa ganjel lapar lah.

Makanan yang disajikan dalam penerbangan Sriwijaya Air

Selesai menghabiskan makanan, gue menghabiskan sisa penerbangan dengan menikmati keindahan alam mimpi alias tidur. Tapi ya seperti biasanya, gue tidur cuma tidur tidur ayam saja. Entah kenapa paling nggak bisa tidur kalau di pesawat.

Another windows view

Pukul 08.45 waktu Makassar pesawat sudah mulai mengurangi ketinggiannya, menandakan bahwa akan segera mendarat. Terlihat dari atas cuaca Makassar pada saat itu, mendung di beberapa tempat dan agak gerimis manja. Tepat 15 menit kemudian pesawat mendarat di runway 03 Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar di Maros

Welcome again Makassar!

To be continued