#ShortEscape: Ada Apa Sih di Batu Caves?

Eps. 8: Batu Caves, Apa Sih Menariknya Tempat Itu?

Kamis, 16 Februari 2017, pukul 06.00 MST (Mayalsian Standard Time), gue udah bangun dari tidur nyenyak gue di Agosto Guesthouse. Ternyata nyaman juga nih hostel, gue yang biasanya susah tidur di tempat baru tetapi di hostel ini bisa tidur nyenyak semaleman. Gimana nggak nyaman coba? ACnya dingin, disediain selimut juga.

Baca juga: #ShortEscape: Review Agosto Guesthouse Kuala Lumpur [RECOMMENDED]

Gue udah bangun disaat tamu hostel lain masih asyique molor. Pikirannya sih enak mandi pas belum ada orang yang bangun gini, jadinya kan nggak pake antri. Langsung aja ambil peralatan mandi dan meluncur ke kamar mandi. Eh, di tengah jalan nyempetin nengok ke luar jendela dan ternyata, MASIH GELAP DONG! Hahaha. Pantesan aja masih sepi dan banyak yang masih tidur. Lha wong jam 6 di Malaysia rasanya kayak masih jam setengah 5 di Jawa sana.

Pukul setengah 8, kita udah siap jalan. Rencana pertama pagi itu adalah mau nyari sarapan dulu, soalnya hostel emang nggak nyediain sarapan. Berbekal info dari blognya Travelime, ada tempat makan yang recommended yang udah buka dari pagi. Restoran itu namanya Yusoof dan Zakhir, yang letaknya di Central Market. Begitu sampai disana, restoran sudah mulai rame dengan para pekerja yang menyempatkan untuk sarapan. Lantunan ayat suci Al-Quran juga terdengar dari restoran ini.

2017-04-09-13-54-01
Restoran Yusoof dan Zakhir terletak di daerah Central Market, di sebelah kanan Kasturi Walk
242197459022202
Restoran Yusoof dan Zakhir

Menu yang tersedia di restoran ini ada bermacam-macam, dari beragam jenis roti-rotian hingga makanan berat. Waktu itu, gue pesan Roti Banana, sedangkan temen gue pesan Roti Cheese. Untuk minumnya, gue pesan Teh Tarik dan temen gue pesan Hot Milo. Ke Malaysia nggak minum teh tarik? Kayak ada yang kurang gitu deh rasanya. Hahaha. Roti saat itu disajikan dengan 2 macam kuah, kuah kari dan yang satu kurang tahu deh kuah apa. Kalau menurut kita sih itu roti nggak cocok banget dimakan sama kuah itu, aneh jadinya rasanya. Tapi, overall makanan di tempat ini enak rasanya dan patut untuk dicoba. Harga yang dipatok untuk makanan disini juga tidak terlalu mahal, masing-masing RM 3,50 untuk roti banana dan roti cheese, RM 2,00 untuk teh tarik panas, dan RM 2,50 untuk Hot Milo.

2017-04-09-14-12-43
Roti Banana dan Teh Tarik

Selesai makan, kita langsung lanjut untuk ke tujuan wisata pertama untuk hari ini yaitu Batu Caves. Untuk menuju Batu Caves, kita harus menaiki KTM Komuter dari stesen terdekat, yaitu stesen Kuala Lumpur. Dari Central Market, berjalanlah ke stesen LRT Pasar Seni, dan tepat sebelum memasuki stesen LRT Pasar Seni, kalian akan menemui jembatan yang menyebrangi Sungai Klang yang bisa membawa kalian ke stesen Kuala Lumpur. Tiket KTM Komuter dapat dibeli melalui vending machine ataupun dari loket penjualan dengan harga RM 2,50. Tiket ini mirip dengan tiket untuk LRT, berbentuk token warna kuning. Cara penggunaannya pun sama, untuk masuk cukup tempelkan token di gate, untuk keluar masukkan token ke dalam gate.

2017-04-09-14-17-31
Tiket KTM Komuter berbentuk token berwarna kuning

Setelah melewati gate, kami turun ke platform dan ternyata letak platformnya jauh banget. Cukup lama waktu menunggu kereta datang, mungkin sekitar 30 menit. Kereta yang kami tumpangi terbilang cukup baru, masih kinclong. Keadaan di dalam kereta sangat bersih dan nyaman. Perjalanan menuju Batu Caves kurang lebih selama 30 menit, melewati pinggiran kota Kuala Lumpur. Nggak usah takut kebablasan juga, karena Batu Caves adalah stesen terakhir yang dilewati tren ini.

2017-04-09-14-21-16
Stesen Kuala Lumpur

 

2017-04-09-14-25-28
Suasana di dalam Komuter

Nggak usah takut nyasar begitu keluar dari stesen Batu Caves. Ikutin aja orang-orang yang keluar dari stesen, pasti mereka juga tujuannya ke Batu Caves. Dari stesen ke pintu gerbang Batu Caves kalian akan disuguhi pemandangan tebing batu kapur yang menjulan tinggi, dilengkapi dengan para penjual makanan dan souvenir khas India. Begitu sampai di depan pintu gerbang, banyak sekali burung dara yang berterbangan secara bebas, menghampiri setiap pengunjung yang memberi makan. Dari sinilah terlihat patung Dewa Murugan beserta 272 anak tangga disampingnya seperti yang biasa terlihat di foto-foto yang sering kalian lihat. Dari tempat ini lah, pengunjung berebutan untuk mencari spot foto terbaik dengan latar belakang patung Dewa Murugan itu.

2017-04-09-14-33-32
The Iconic Lord Murugan

Untuk masuk ke Batu Cavesnya, kita harus menaiki anak-anak tangga yang terletak tepat di belakang patung Dewa Murugan. Kalau kamu pikir waktu lihat foto tangganya biasa-biasa aja, ternyata pas lihat langsung tangga ini curam banget loh! Karena masih pagi, baru aja sarapan, dan masih semangat ’45 buat naik, akhirnya kita putuskan untuk naik menuju ke guanya. Untungnya lagi, di setiap beberapa anak tangga, disediakan tempat untuk beristirahat, jadi kalau kamu nggak mau capek-capek banget naiknya, bisa ngopi-ngopi dulu disini, nggak deng. Ketika naik-turun di tangga ini sebaiknya berhati-hati juga ya, karena banyak monyet liar yang seenaknya naik turun nggak bilang permisi dulu, hati-hati juga barang bawaanmu, karena bisa saja si monyet-monyet ini ngambilin barangmu.

2017-04-09-14-37-12.jpeg
Kuala Lumpur, under the reign of Lord Murugan

Pada waktu mau sampai di puncak, gue melihat ada seorang wanita India yang menaiki anak tangga sampai ke Batu Caves dengan menggunakan lutunya, memegangi sebuah periuk logam di atas kepalanya, dan dipegangi oleh 2 orang laki-laki di samping kanan kirinya. I just can’t believe it! Bayangin aja, gue yang naik pake kaki aja masih ngos-ngosan dan berkali-kali berhenti, sedangkan wanita ini naik tangga pake lututnya. Pesan yang bisa gue tangkap dari apa yang dilakukan wanita ini yaitu, apapun agamamu, apapun kepercayaanmu, lakukan ibadah dengan sepenuh hati. *ceilah sok bijak banget*

2017-04-09-14-41-34

Begitu sampai di atas, kalian akan menemui penjual ais krim. Eh betulan kok, nggak bercanda. Pengen beli sih, secara kan ya udah naik 272 anak tangga, kok pas sampai disugi orang jualan eskrim, tapi pada akhirnya sih nggak beli ya, takut ditodong monyet-monyet yang tadi. Ternyata pas udah sampai di atas masih ada anak tangga yang harus disusuri dong. Nanggung lah kalo sampai di depan gua doang, jadinya kita sekalian naik ke yang paling atas. Kalau udah sampai di gua emang sih agak gelap, tapi tetep ada lampu penerangan kok. Di dalam gua juga banyak tempat sembahyang, yang gue nggak ngerti satu-satu itu buat apa aja.

2017-04-09-14-45-03
Bagian dalam Batu Caves

Emang sih, usaha keras itu tak akan menghianati. Sampai di paling atas, kalian akan disuguhi pemandangan yang bagus banget. Jadi, gua ini itu bolong di bagian tengahnya, sehinnga akan kelihatan langit dari bagian tengah gua ini. Kalo gue bilang serasa kayak di jurang gitu. Kalau orang India yang datang tadi ritualnya sembahyang, kalau kita ritualnya foto-foto aja ya. Karena kita datang pas hari kerja, jadi tempat ini lumayan agak sepi jadi bisa foto-foto bebas, tapi tetep harus menghormati yang lagi sembahyang ya.

2017-04-09-14-48-16

Puas foto-foto dan lihat-lihat keadaan gua batu ini, kita memutuskan untuk kembali turun. Yang dipikiran gue turunnya pasti gampang ternyata salah besar. Ternyata lebih susah turunin anak tangga ini daripada naikinnya. Secara tangga ini emang curam banget jadi kita harus hati-hati kalau turun, salah-salah bisa njelungup nanti. Sampai di bawah kembali, kita langsung menuju ke kedai terdekat, beli sebotol air dingin yang dihargai RM 1.20. Alhamdulillah, seger banget rasanya, lain kali bawa persediaan air lah kalo ke sini.

Menjelang siang, wisatawan yang datang semakin banyak. Gue yang mau berfoto kembali sama patung Dewa Murugan gagal terus, gara-gara ada aja orang yang menyela juga. Nggak lama kemudian, kita kembali lagi ke stesen Batu Caves untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

2017-04-09-14-51-10
Err, mbak, pengen nampang di foto saya ya? 

To be continued…

2 respons untuk ‘#ShortEscape: Ada Apa Sih di Batu Caves?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s