#ShortEscape: Tur Jalan Kaki Keliling Kuala Lumpur

Eps. 9: Jalan Kaki Keliling Kuala Lumpur? Kenapa nggak?

Kami kembali menuju Kuala Lumpur masih menggunakan KTM Komuter, masih dengan harga tiket yang sama, dan menuju stesen yang sama pula. Bedanya, karena stesen Batu Caves ini adalah stesen terminus, maka train berhenti cukup lama di stesen ini. Dan juga karena belum banyak penumpang yang naik, maka train juga masih cukup sepi penumpang, bahkan dalam satu gerbong penumpangnya cuma kami berdua. Enak lah bisa selonjoran.

2017-28-09-09-12-18
Lumayan, bisa buat selonjoran

Berbekal hasil blogwalking sebelumnya, gue memantapkan hati untuk mengikuti jejak-jejak traveller lain yang sudah berhasil mengelilingi Kuala Lumpur dengan berjalan kaki. Ya, bukan juga keliling kotanya dari ujung ke ujung sih, tapi lebih tepatnya keliling tempat wisata yang berdekatan di sekitar pusat kota Kuala Lumpur. Tempat-tempat wisata ini terletak cukup berdekatan dan tentunya gratis dong. Hahaha.

Perjalanan kita mulai dengan naik LRT ke Masjid Jamek

2017-27-09-16-25-59

Dari stesen Kuala Lumpur, kita menyebrang ke stesen LRT Pasar Seni dan naik LRT menuju Masjid Jamek. Stesen LRT Masjid Jamek hanya berjarak satu stesen saja dari stesen LRT Pasar Seni, dan hanya memakan ongkos sebesar RM 1.30.  Sebenarnya bisa juga sih jalan kaki dari Pasar Seni ke Masjid Jamek, tapi karena pertimbangan malas dan panas kepraktisan, kita lebih memilih naik LRT. FYI, Masjid Jamek bisa kalian capai baik dengan LRT Laluan Kelana Jaya atau Laluan Ampang/Sri Petaling.

Masjid Jamek

Keluar dari stesen LRT Masjid Jamek, kalian langsung akan menemui Majid Jamek ini. Masjid Jamek atau nama lengkapnya Masjid Jamek Sultan Abdul Samad, adalah salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Masjid ini terletak di titik pertemuan antara Sungai Klang dan Sungai Gombak, yang dapat diakses dari Jalan Tun Perak.

Kebetulan waktu itu kita datang pas Masjid Jamek sedang ada renovasi. Kita tidak diperbolehkan masuk karena belum masuk waku sholat, jadi waktu itu cukup lihat dari luar saja.

NB: Karena udah kecewa duluan gabisa masuk liat-liat Masjid Jamek, akhirnya baru nyadar kalo nggak ada sama sekali foto di Masjid Jamek, jadi maafin yak ga ada fotonya Masjid Jamek.

Dataran Merdeka (Merdeka Square)

2017-27-09-17-04-44

Setelah dari Masjid Jamek, beloklah ke kiri kembali ke Jalan Tun Perak. Jalan lurus sampai ke persimpangan, kemudian belok ke kiri lagi. Masuk di Jalan Raja, kalian akan menemui suatu bangunan cantik di sebelah kiri, bangunan itu adalah Dewan Bandaraya Kuala Lumpur. Berjalanlah lurus kembali sampai menemui sebuah lapangan, lapangan inilah yang disebut Dataran Merdeka.

2017-28-09-09-20-59
Suasana pedestrian menuju ke Dataran Merdeka

Karena waktu itu kita sampai pas tengah hari, jadi kita istirahat ngadem dulu di sebuah taman kecil yang ada di bagian ujung Dataran Merdeka, ditambah semprotan air mancur yang sedikit menyegarkan, ditambah lagi ada WiFi gratis. Seger!

2017-28-09-09-25-24

Dataran Merdeka ini adalah sebuah tempat yang bersejarah bagi Malaysia. Di lapangan inilah pada tanggal 31 Agustus 1957, bendera Inggris diturunkan dan bendera Malaysia dinaikkan untuk pertama kalinya. Di bagian ujung lain lapangan ini terdapat tiang bendera setinggi 95 meter, menjadikan tiang bendera ini sebagai salah satu tiang bendera tertinggi di dunia. Di sekitar Dataran Merdeka terdapat beberapa bangunan bersejarah lainnya, antara lain Bangunan Sultan Abdul Samad, Katedral St. Mary, Royal Selangor Club, Muzium Muzik, Muzium Tekstil dan Kuala Lumpur City Gallery.

2017-28-09-09-34-50
One of world’s tallest flag-pole
2017-28-09-09-41-40
Bangunan Sultan Abdul Samad
2017-28-09-09-44-46
Muzium Tekstil

Kuala Lumpur City Gallery

Berjalanlah lurus mengikuti Dataran Merdeka, dan di ujung dekat tiang bendera akan kalian temui Kuala Lumpur City Gallery. Dari kejauhan pasti kalian bisa mengetahui tempat ini, yang ditandai dengan tulisan “I ❤️ KL” dengan warna merah mencolok. Jangan lupa melakukan foto bersama tulisan ikonik ini dulu, agar sah kunjungan kalian ke KL City Gallery. Tapi ingat ya, harus antri dengan tertib!

2017-28-09-09-51-13

Masuk ke KL City Gallery ini akan dikenai tiket masuk sebesar RM 5 saja. Sebenernya bisa dibilang gratis sih. Soalnya tiket ini semacam voucher gitu, jadi kalian bisa tukarkan dengan makanan atau minuman atau suvenir nanti waktu mau keluar dari tempat ini, dengan harga RM 5 juga. Jadi, jika makanan atau minuman atau barang yang kalian mau harganya lebih dari RM 5, tinggal nambah kurangnya aja, tapi kalau harganya kurang dari RM 5 kayaknya nggak dikasih kembalian deh. Jadi, ambil sesuai harga aja. *pantang rugi*

2017-28-09-09-59-27
Tiket sekaligus voucher

Di dalam KL City Gallery ini ada apa aja sih? Banyak! Jadi, sebenernya tempat ini adalah tourist information centre yang didalamnya menyimpan berbagai miniatur replika bangunan terkenal di Kuala Lumpur. Nggak hanya miniaturnya kok, tetapi ada juga foto dan lukisan tentang sejarah Kuala Lumpur disertai dengan penjelasannya.

2017-28-09-10-04-07
Miniatur Masjid Jamek

Naik ke lantai dua, kalian akan disuguhi ruangan yang penuh dengan maket pemandangan kota Kuala Lumpur. Ketika pertunjukan dimulai, lampu ruangan akan dimatikan dan diputar video tentang sejarah pembangunan kota Kuala Lumpur hingga sekarang. Video akan disuguhkan dengan tiga bahasa, yakni Melayu, Inggris dan Mandarin. Selama pemutaran video, maket ini akan menyala dengan lampu warna-warni sesuai dengan informasi yang diberikan lewat video. Jadi, dengan bantuan teknologi multimedia ini, pengunjung akan lebih mudah memahami bagaimana perkembangan kota Kuala Lumpur.

2017-28-09-10-07-23

2017-28-09-10-10-26

Kembali ke lantai 1, sebelum keluar ada area kafe dan suvenir. Terdapat berbagai macam suvenir yang dijual disini, dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Memang, rata-rata harga suvenir yang dijual disini lebih mahal daripada suvenir yang dijual di Petaling Street, tapi kualitas tetap menjadi nomor satu disini. Jika kalian tidak ingin menukarkan voucher dengan suvenir, tukarkan saja dengan makanan atau minuman. Waktu itu kita tukarkan voucher dengan Teh Tarik seharga RM 5, karena males nombok jadi cari yang harganya sama saja. Lumayan kan habis capek jalan kaki, nikmatin minuman di ruangan ber-AC dan ber-WiFi, sambil ngumpulin tenaga untuk jalan kaki lagi.

2017-28-09-10-14-19

Masjid Negara Malaysia

2017-27-09-17-14-15

Keluar dari KL City Gallery, berjalanlah lurus sampai bertemu persimpangan dan belok kanan. Berjalanlah lurus melalui Jalan Sultan Hishamuddin, melewati sebuah terowongan dan sampailah di sebuah Masjid yang terlihat lain dari Masjid pada umumnya.

2017-28-09-12-19-102

2017-28-09-12-19-10

Masjid yang diresmikan pada tahun 1965 ini merupakan lambang keagungan Islam sebagai agama resmi di Malaysia. Selain bentuk Masjid yang modern, hal lain yang sangat mencolok dari Masjid ini adalah sebuah minaret setinggi 73 meter. Bentuk atap Masjid ini pun unik, menyerupai sebuah payung yang terbuka dengan 16 titik.

Karena sudah masuk waktu sholat Dhuhur, gue pun menyempatkan diri untuk menunaikan sholat. Sepertinya Masjid ini juga digunakan untuk sebuah sekolah, karena pada saat itu bisa gue lihat banyak anak-anak kecil menggunakan baju seragam sekolah khas Malaysia. Benar saja, waktu itu gue juga sempat lihat anak-anak tersebut sedang belajar gerakan dan bacaan sholat.

2017-28-09-12-31-16

2017-28-09-12-35-01

2017-28-09-12-38-15

2017-28-09-12-41-31

Setelah sholat, gue sempatkan waktu sebentar untuk sedikit mengelilingi masjid ini dan mengagumi keindahannya. Jika kalian membawa botol kosong juga bisa isi air minum disini, karena disediakan tempat pengisian air minum juga. Hal lain yang sangat gue apresiasi adalah tersedianya WiFi gratis di dalam Masjid. Alhamdulillah. *fakir WiFi*

2017-28-09-12-46-40

Bangunan Ibu Pejabat Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad

Keluar dari Masjid Negara, kembalilah berjalan dengan arah yang sama. Tidak jauh dari Masjid Negara, kalian akan menemui sebuah bangunan cantik berwarna cokelat. Bangunan ini adalah Bangunan Ibu Pejabat Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad.

2017-28-09-14-15-40.jpeg

What?? Ibu Pejabat?? Istrinya Pak Pejabat dong. Tentu saja bukan! Ibu Pejabat yang dimaksud disini adalah sama dengan Headquarters dalam Bahasa Inggris, atau kalau dalam Bahasa Indonesia artinya sama dengan Kantor Pusat. Jadi, bangunan ini adalah Kantor Pusat yang mengelola seluruh aktifitas bisnis dari Keretapi Tanah Melayu (KTM).

Desain bangunan yang cantik menjadi ciri khas dari bangunan ini. Dirancang dengan arsitektur bergaya Moor, dengan mengaplikasikan elemen arsitektur Islam seperti yang biasa terlihat pada kubah Masjid.

Stesen Kuala Lumpur

Stesen Kuala Lumpur terletak di seberang Bangunan Ibu Pejabat KTM Berhad, hanya dipisahkan dengan sebuah ruas jalan saja. Walaupun begitu, jangan menyeberang jalan di tempat ini, karena di sepanjang median jalan dan di sepanjang trotoar terdapat pagar, sehingga kalian tidak akan bisa menyeberang jalan disini. Oleh karena itu, gunakanlah terowongan penyeberangan yang terletak pas di depan Bangunan Ibu Pejabat KTM Berhad.

2017-28-09-14-20-26

Stasiun Kuala Lumpur ini terlihat sangat kontras dibandingkan dengan bangunan yang ada di seberang dengan warna putihnya. Sebelumnya, stasiun ini merupakan stasiun sentral yang digunakan sebagai pusat kereta api, namun sekarang kedudukannya telah digantikan oleh Kuala Lumpur Sentral. Hingga saat ini, stasiun ini masih berfungsi untuk melayani KTM Komuter.

Masih kuat? Lanjut lagi yuk!

To be continued…

 

Iklan

#ShortEscape: Ada Apa Sih di Batu Caves?

Eps. 8: Batu Caves, Apa Sih Menariknya Tempat Itu?

Kamis, 16 Februari 2017, pukul 06.00 MST (Mayalsian Standard Time), gue udah bangun dari tidur nyenyak gue di Agosto Guesthouse. Ternyata nyaman juga nih hostel, gue yang biasanya susah tidur di tempat baru tetapi di hostel ini bisa tidur nyenyak semaleman. Gimana nggak nyaman coba? ACnya dingin, disediain selimut juga.

Baca juga: #ShortEscape: Review Agosto Guesthouse Kuala Lumpur [RECOMMENDED]

Gue udah bangun disaat tamu hostel lain masih asyique molor. Pikirannya sih enak mandi pas belum ada orang yang bangun gini, jadinya kan nggak pake antri. Langsung aja ambil peralatan mandi dan meluncur ke kamar mandi. Eh, di tengah jalan nyempetin nengok ke luar jendela dan ternyata, MASIH GELAP DONG! Hahaha. Pantesan aja masih sepi dan banyak yang masih tidur. Lha wong jam 6 di Malaysia rasanya kayak masih jam setengah 5 di Jawa sana.

Pukul setengah 8, kita udah siap jalan. Rencana pertama pagi itu adalah mau nyari sarapan dulu, soalnya hostel emang nggak nyediain sarapan. Berbekal info dari blognya Travelime, ada tempat makan yang recommended yang udah buka dari pagi. Restoran itu namanya Yusoof dan Zakhir, yang letaknya di Central Market. Begitu sampai disana, restoran sudah mulai rame dengan para pekerja yang menyempatkan untuk sarapan. Lantunan ayat suci Al-Quran juga terdengar dari restoran ini.

2017-04-09-13-54-01
Restoran Yusoof dan Zakhir terletak di daerah Central Market, di sebelah kanan Kasturi Walk
242197459022202
Restoran Yusoof dan Zakhir

Menu yang tersedia di restoran ini ada bermacam-macam, dari beragam jenis roti-rotian hingga makanan berat. Waktu itu, gue pesan Roti Banana, sedangkan temen gue pesan Roti Cheese. Untuk minumnya, gue pesan Teh Tarik dan temen gue pesan Hot Milo. Ke Malaysia nggak minum teh tarik? Kayak ada yang kurang gitu deh rasanya. Hahaha. Roti saat itu disajikan dengan 2 macam kuah, kuah kari dan yang satu kurang tahu deh kuah apa. Kalau menurut kita sih itu roti nggak cocok banget dimakan sama kuah itu, aneh jadinya rasanya. Tapi, overall makanan di tempat ini enak rasanya dan patut untuk dicoba. Harga yang dipatok untuk makanan disini juga tidak terlalu mahal, masing-masing RM 3,50 untuk roti banana dan roti cheese, RM 2,00 untuk teh tarik panas, dan RM 2,50 untuk Hot Milo.

2017-04-09-14-12-43
Roti Banana dan Teh Tarik

Selesai makan, kita langsung lanjut untuk ke tujuan wisata pertama untuk hari ini yaitu Batu Caves. Untuk menuju Batu Caves, kita harus menaiki KTM Komuter dari stesen terdekat, yaitu stesen Kuala Lumpur. Dari Central Market, berjalanlah ke stesen LRT Pasar Seni, dan tepat sebelum memasuki stesen LRT Pasar Seni, kalian akan menemui jembatan yang menyebrangi Sungai Klang yang bisa membawa kalian ke stesen Kuala Lumpur. Tiket KTM Komuter dapat dibeli melalui vending machine ataupun dari loket penjualan dengan harga RM 2,50. Tiket ini mirip dengan tiket untuk LRT, berbentuk token warna kuning. Cara penggunaannya pun sama, untuk masuk cukup tempelkan token di gate, untuk keluar masukkan token ke dalam gate.

2017-04-09-14-17-31
Tiket KTM Komuter berbentuk token berwarna kuning

Setelah melewati gate, kami turun ke platform dan ternyata letak platformnya jauh banget. Cukup lama waktu menunggu kereta datang, mungkin sekitar 30 menit. Kereta yang kami tumpangi terbilang cukup baru, masih kinclong. Keadaan di dalam kereta sangat bersih dan nyaman. Perjalanan menuju Batu Caves kurang lebih selama 30 menit, melewati pinggiran kota Kuala Lumpur. Nggak usah takut kebablasan juga, karena Batu Caves adalah stesen terakhir yang dilewati tren ini.

2017-04-09-14-21-16
Stesen Kuala Lumpur

 

2017-04-09-14-25-28
Suasana di dalam Komuter

Nggak usah takut nyasar begitu keluar dari stesen Batu Caves. Ikutin aja orang-orang yang keluar dari stesen, pasti mereka juga tujuannya ke Batu Caves. Dari stesen ke pintu gerbang Batu Caves kalian akan disuguhi pemandangan tebing batu kapur yang menjulan tinggi, dilengkapi dengan para penjual makanan dan souvenir khas India. Begitu sampai di depan pintu gerbang, banyak sekali burung dara yang berterbangan secara bebas, menghampiri setiap pengunjung yang memberi makan. Dari sinilah terlihat patung Dewa Murugan beserta 272 anak tangga disampingnya seperti yang biasa terlihat di foto-foto yang sering kalian lihat. Dari tempat ini lah, pengunjung berebutan untuk mencari spot foto terbaik dengan latar belakang patung Dewa Murugan itu.

2017-04-09-14-33-32
The Iconic Lord Murugan

Untuk masuk ke Batu Cavesnya, kita harus menaiki anak-anak tangga yang terletak tepat di belakang patung Dewa Murugan. Kalau kamu pikir waktu lihat foto tangganya biasa-biasa aja, ternyata pas lihat langsung tangga ini curam banget loh! Karena masih pagi, baru aja sarapan, dan masih semangat ’45 buat naik, akhirnya kita putuskan untuk naik menuju ke guanya. Untungnya lagi, di setiap beberapa anak tangga, disediakan tempat untuk beristirahat, jadi kalau kamu nggak mau capek-capek banget naiknya, bisa ngopi-ngopi dulu disini, nggak deng. Ketika naik-turun di tangga ini sebaiknya berhati-hati juga ya, karena banyak monyet liar yang seenaknya naik turun nggak bilang permisi dulu, hati-hati juga barang bawaanmu, karena bisa saja si monyet-monyet ini ngambilin barangmu.

2017-04-09-14-37-12.jpeg
Kuala Lumpur, under the reign of Lord Murugan

Pada waktu mau sampai di puncak, gue melihat ada seorang wanita India yang menaiki anak tangga sampai ke Batu Caves dengan menggunakan lutunya, memegangi sebuah periuk logam di atas kepalanya, dan dipegangi oleh 2 orang laki-laki di samping kanan kirinya. I just can’t believe it! Bayangin aja, gue yang naik pake kaki aja masih ngos-ngosan dan berkali-kali berhenti, sedangkan wanita ini naik tangga pake lututnya. Pesan yang bisa gue tangkap dari apa yang dilakukan wanita ini yaitu, apapun agamamu, apapun kepercayaanmu, lakukan ibadah dengan sepenuh hati. *ceilah sok bijak banget*

2017-04-09-14-41-34

Begitu sampai di atas, kalian akan menemui penjual ais krim. Eh betulan kok, nggak bercanda. Pengen beli sih, secara kan ya udah naik 272 anak tangga, kok pas sampai disugi orang jualan eskrim, tapi pada akhirnya sih nggak beli ya, takut ditodong monyet-monyet yang tadi. Ternyata pas udah sampai di atas masih ada anak tangga yang harus disusuri dong. Nanggung lah kalo sampai di depan gua doang, jadinya kita sekalian naik ke yang paling atas. Kalau udah sampai di gua emang sih agak gelap, tapi tetep ada lampu penerangan kok. Di dalam gua juga banyak tempat sembahyang, yang gue nggak ngerti satu-satu itu buat apa aja.

2017-04-09-14-45-03
Bagian dalam Batu Caves

Emang sih, usaha keras itu tak akan menghianati. Sampai di paling atas, kalian akan disuguhi pemandangan yang bagus banget. Jadi, gua ini itu bolong di bagian tengahnya, sehinnga akan kelihatan langit dari bagian tengah gua ini. Kalo gue bilang serasa kayak di jurang gitu. Kalau orang India yang datang tadi ritualnya sembahyang, kalau kita ritualnya foto-foto aja ya. Karena kita datang pas hari kerja, jadi tempat ini lumayan agak sepi jadi bisa foto-foto bebas, tapi tetep harus menghormati yang lagi sembahyang ya.

2017-04-09-14-48-16

Puas foto-foto dan lihat-lihat keadaan gua batu ini, kita memutuskan untuk kembali turun. Yang dipikiran gue turunnya pasti gampang ternyata salah besar. Ternyata lebih susah turunin anak tangga ini daripada naikinnya. Secara tangga ini emang curam banget jadi kita harus hati-hati kalau turun, salah-salah bisa njelungup nanti. Sampai di bawah kembali, kita langsung menuju ke kedai terdekat, beli sebotol air dingin yang dihargai RM 1.20. Alhamdulillah, seger banget rasanya, lain kali bawa persediaan air lah kalo ke sini.

Menjelang siang, wisatawan yang datang semakin banyak. Gue yang mau berfoto kembali sama patung Dewa Murugan gagal terus, gara-gara ada aja orang yang menyela juga. Nggak lama kemudian, kita kembali lagi ke stesen Batu Caves untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

2017-04-09-14-51-10
Err, mbak, pengen nampang di foto saya ya? 

To be continued…

#ShortEscape: Kebingungan di Jalan Alor

Eps. 7: Kebingungan di Jalan Alor, Bingung Mau Kesananya, Bingung Juga Nyari Makannya

Hai semua para penikmat blog gue. Apa kabar? Baik kan. Gue baik-baik juga kok. Setelah gak ngeblog 4 bulan lebih (karena lagi males), akhirnya semangat ngeblog kembali berkobar (palingan ntar pas sibuk kerja males lagi).

*bersiin sawang* *ngerti sawang ora?*

Oke kali ini, gue mau lanjutin cerita dari postingan yang lalu. Semoga aja masih inget sih ya. Ya walaupun udah gak fresh-fresh amat, yang penting bisa bagi info, cerita dan pengalaman untuk kalian semua.

Setelah puas jalan-jalan sore di sekitaran KLCC dan Petronas Twin Tower, kami memutuskan untuk beralih ke tujuan terakhir malam itu, yaitu Jalan Alor. Rencana awalnya sih kami mau naik LRT dari stesen KLCC ke stesen Dang Wangi, kemudian dilanjut naik Monorel dari stesen Bukit Nanas ke stesen Bukit Bintang. Tapi setelah dipikir-pikir, kok ribet amat ya dari KLCC ke Bukit Bintang. Nah, pas jalan di depan Suria KLCC tersadarlah ada yang namanya bas GoKL yang bisa ngantar kita dari KLCC langsung ke Bukit Bintang langsung tanpa transit dan yang paling penting GRATIS. Hahaha.

Tanpa pikir panjang, kami pun naik bas tersebut untuk menuju ke Bukit Bintang. Fasilitas di dalam bas ini pun terbilang nyaman walaupun tidak dikenakan ongkos biaya. Jangan khawatir kelewatan pemberhentian bas karena setiap menjelang pemberhentian, akan ada pengumuman lewat suara, dan bisa dilihat juga di layar pada bagian depan bas ini.

IMG_8890
Suasana di dalam bas GoKL

Bas pun berhenti di pemberhentian Bukit Bintang setelah sebelumnya berhenti di beberapa tempat pemberhentian. Pemberhentian ini terletak di dekat stesen Monorel Bukit Bintang. Begitu turun dari bas pun kita jadi bingung arah Jalan Alor ini kemana, secara di antara kita berdua nggak ada yang punya koneksi internet juga. Akhirnya sebelum lanjut jalan kita beli air minum dulu di kedai dekat pemberhentian bas. Air mineral disini dibanderol RM 1,20 per botol. Cukup murah lah ya.

Karena bingung mau jalan kemana, akhirnya gue hanya mengandalkan insting dan temen gue ngikutin aja. Pertama kita jalan menuju ke arah stesen Monorel dan belok kanan di perempatan sebelum stesen. Setelah berjalan beberapa meter, gue memutuskan untuk balik arah karena jalan gue rasa terlalu “sepi” (padahal ini jalan yang bener loh). Akhirnya kita balik arah, nyebrang jalan di dekat pemberhentian bas dan kembali berjalan ke arah stesen. Sampai di perempatan, gue bingung lagi. Akhirnya karena takut nyasar, kita memutuskan untuk bertanya saja kepada salah satu uncle yang lagi kerja di proyek MRT.

Kali itu langsung aja tembak nanya pake Bahasa Indonesia, udah capek euy mau mikir Bahasa Inggris lagi, toh ya sesama orang Melayu juga pasti ngerti lah mereka, dan untungnya uncle itu ngerti juga. Ternyata menurut penjelasan uncle itu, untuk ke Jalan Alor kita harus balik arah, nyebrang jalan di tempat yang tadi, belok kanan di perempatan, terus belok kanan lagi begitu nemu KFC. Yaelah, padahal tadi kan kita udah lewat jalan itu, kenapa balik lagi ya. Berarti insting gue belum kuat kali ya. Hahaha. Ternyata jalan yang tadi yang gue kira “sepi” itu karena jalannya hanya satu arah, dan sebagian jalan ditutup karena ada proyek pembangunan MRT.

Setelah ngikutin arah sesuai arahan uncle tadi, akhirnya kita sampai juga di Jalan Alor. Kesan pertama di Jalan Alor yaitu rame banget. Jalan Alor merupakan kawasan kuliner yang lagi hitz banget di Kuala Lumpur. Kenapa sih kok mau makan harus ke tempat ini? Karena gue kemakan sama tulisan-tulisan blog lain yang nyeritain begitu ramenya Jalan Alor ini.

Jadi di sepanjang jalan ini dipenuhi oleh gerai-gerai dan gerobak-gerobak penjaja makanan dan minuman beserta meja dan kursinya yang menutupi sebagian besar jalan. Sementara itu, lampion-lampion bergantungan di sepanjang jalan menambah semaraknya jalan ini. Karena baru kali ini nyampe sini dan bingung kita mau makan apa, akhirnya kita memutuskan untuk menyusuri jalan ini dulu sampai ujung baru menentukan mau makan apa.

Sepanjang menyusuri jalanan ini gue nggak berhenti tengok kanan-kiri nyari sesuatu yang pas. Sesekali kita harus menepi juga karena walaupun jalan ini dipenuhi dengan meja dan kursi tetapi masih ada saja mobil yang menyelinap masuk ke jalan ini. Duh. Jadi di sebelah kiri jalan ini kebanyakan gerai-gerai makanan yang memang punya bangunan tetap dan di sebelah kanan jalan lebih banyak gerobak-gerobak. Sampai di ujung Jalan Alor, gue dapat menarik kesimpulan. Yang jual makanan banyak tapi banyak babinya juga. Haaa. Udah susah-susah kesini masa nggak makan sih.

Akhirnya kita memutuskan putar balik dan jalan kembali ke tempat kita pertama datang tadi dan berharap ada makanan yang bisa kita makan disini. Di tengah jalan ternyata ada makcik berkerudung yang tawarin kita makanan di kedainya (maaf gue udah lupa nama gerainya apaan). Mungkin makcik itu tau kalo kita nggak bisa pilih makanan lain disini. Akhirnya kita memutuskan untuk makan disini saja, daripada muter-muter nggak jelas lagi, mana udah laper pula. Makanan yang dijual di gerai ini standar seperti makanan yang dijual di Malaysia. Mee goreng, nasi goreng, ais ABC, dan lain-lain (maaf juga udah lupa ada makanan apa aja). Kali itu gue pesen nasi goreng kampung dan temen gue pesen mee goreng, sama semangkok ais ABC, iya cuma semangkok aja biar so sweet, eh ga deng, abisnya kata makciknya semangkok bisa buat berdua sih.

Yang pertama datang yaitu ais ABC, ini nih yang emang gue penasaran dari dulu. Soalnya dari dulu liat Upin, Ipin dan kawan-kawannya doyan banget makan ais ABC bikinan uncle Muhtu, gue penasaran dong seenak apa makanan ini. Ternyata ais ABC ini sebelas-duabelas sama es campur kalo di Indonesia, cuma ada isian kacang yang membedakan dari es campur Indonesia. Kalo menurut gue sih, emang enak ini ais, pantesan aja Upin Ipin pada suka. Eh, kalian tau gak sih apaan kepanjangan ABC ini? FYI, ABC ini adalah kepanjangan dari Air Batu Campur. Sebagian juga ada yang nyebut ais ini ais kacang.

IMG_8889
Air Batu Campur

Nasi goreng kampung dan mee goreng yang kita pesan pun datang. Penampakannya nggak jauh beda sama yang di Indonesia kok. Setelah dicobain ternyata, asin cuy, dasarnya nasi gorengnya udah asin ditambah ikan terinya asin juga, jadinya dobel asinnya. Gue cobain mee goreng temen ternyata sama asin juga. Yang masak minta kawin kali yak. Tapi karena kita lapar dan nggak ada pilihan lain, yaudah makan aja lah. Ujung-ujungnya nasi goreng gue habis dan mee goreng temen tinggal setengah. Hahaha.

IMG_8888
In the middle of Alor Street

Kemudian pas bayar nih makcik yang jualan nanya ke gue, “Cemane, sedap tak?“, gue cuman nyengir aja sambil ngacungin jempol, padahal lidah masih rasa asin ini. Nasi goreng kampung yang gue makan dibanderol harga RM 7, mee goreng harga RM 6, dan ais ABC harganya RM 5. Jadi kalo diitung-itung seorang ngabisin kurang dari RM 10 atau kurang dari Rp 30.000,-. Murah kan?

Selesai makan kita putuskan untuk balik aja ke hostel karena udah malam emang. Kembali menyusuri jalan yang tadi. Untuk kembali ke hostel di daerah Pasar Seni, kami kembali menggunakan bas GoKL dan menunggu di tempat kita tadi turun di Bukit Bintang. Bas cukup sepi malam itu, jadi kita kebagian tempat duduk di bagian belakang. Sampai di pemberhentian Pasar Seni, kami melanjutkan berjalan kaki ke hostel dan beristirahat untuk perjalanan esok hari.

Catatan: Sorry gue lupa ambil foto happeningnya Jalan Alor ini.

To be continued…

 

#ShortEscape: KLCC dan Menara Kembar Petronas

Eps. 6: Jalan-jalan ke Menara Kembar Petronas, Ikon Kuala Lumpur yang Wajib Dikunjungi

Setelah sampai di hostel, kami ambil waktu sedikit sebelum meneruskan petualangan. Setelah bobok-bobok cantik, menyimpan tas dan barang bawaan, dan ritual bersih diri, kami bersiap untuk pergi menyambangi ikon Kuala Lumpur, Menara Kembar Petronas.

Menara Kembar Petronas terletak di area Kuala Lumpur City Center atau KLCC. Untuk menuju kesana dari hostel kami yang terletak di daerah Chinatown atau Pasar Seni, kami menggunakan moda transportasi LRT. Dari stesen Pasar Seni naik LRT yang ke arah Gombak dan turun di stesen KLCC. Perjalanan memakan waktu sekitar 10 menit dengan jarak 4 stesen dan tarif RM 2,60. 

LRT Train coming at Pasar Seni station

Stesen LRT KLCC berupa stesen bawah tanah yang terletak di bawah mall yang bernama Avenue K. Menurut informasi terdapat jalan khusus pedestrian yang dibuat di bawah tanah yang nyambung ke Suria KLCC, tempat dimana Menara Kembar Petronas berada. Entah karena gue nggak teliti carinya atau emang katrok, gue nggak nemu jalan itu. Gue waktu itu langsung naik ke mall di atas stesen dan waktu itu gue kira kalau mall itu Suria KLCC, padahal itu mah Avenue K. Emang gue paling bingung kalo keluar stasiun bawah tanah terus atasnya itu langsung nyambung sama bangunan, seketika langsung buta arah.

Setelah muter-muter ga jelas di Avenue K sambil nyari pintu keluar yang nggak ketemu-ketemu, akhirnya kita tanya aja sama satpam (eh apasih sebutannya kalo di Malaysia?). Dia kasih tau kalau mau ke Menara Kembar Petronas harus keluar dari mall dulu baru nyebrang jalan, dia juga kasih tau bisa keluar dari mall lewat mana. Dasar norak!

Mungkin ada yang belum tau KLCC itu apa, seperti gue lalu menganggap kalau KLCC itu sebuah gedung. Kuala Lumpur City Centre atau yang biasa disebut KLCC adalah suatu area di dalam kota Kuala Lumpur yang memiliki beberapa fungsi yang di dalamnya terdapat beberapa gedung pertokoan seperti Suria KLCC dan Avenue K, gedung perkantoran seperti Menara Kembar Petronas dan Menara Maxis, beberapa gedung hotel dan gedung-gedung lain.

Kali itu, kami memilih spot foto di KLCC Park. Setelah masuk sebentar di Suria KLCC kemudian keluar di KLCC Park. Gue nggak begitu ngeh untuk ambil gambar di depan Menara Kembar Petronas, ya antara nggak ngeh atau emang nggak tau atau emang udah hilang arah duluan sih. Taunya langsung menuju ke KLCC Park aja. Suasana sore itu cukup ramai oleh para wisatawan. Selain wisatawan asing, banyak juga warga lokal yang menghabiskan sore di sekitar KLCC Park. Terlihat banyak juga warga yang memanfaatkan KLCC Park untuk olahraga sore hari seperti jogging

Kami kemudian keliling sebentar di area KLCC Park untuk mencari spot berfoto yang pas. Sebuah spot di dekat kolam sebelum jembatan di dekat taman pun kami pilih. Tidak banyak orang lalu lalang karena memang letaknya yang agak sepi mengingat terletak hampir di dekat jembatan. 

Menara Kembar Petronas paling pas untuk dinikmati keindahannya di sore hari hingga malam hari. Selain dapat view waktu masih terang, kita juga dapat view ketika malam datang dan lampu-lampu di Menara Kembar Petronas mulai menyala. Waktu itu kami sampai di KLCC Park sekitar pukul setengah tujuh malam dan langit masih terang. Langit mulai gelap sekitar pukul setengah delapan. Perlu diingat walaupun Kuala Lumpur letaknya lebih barat dari Jakarta tapi waktu Malaysia menggunakan GMT+8. Jadi disana baru gelap sekitar jam 8 malam.

Did you see the beautiful changes from day to night?

Sampai di Menara Kembar Petronas nggak afdol rasanya jika nggak berfoto. Menurut gue KLCC Park ini tempat yang paling pas buat ambil foto dengan Menara. Setelah capek foto bisa santai-santai di sekitar taman, tenang aja banyak bangku-bangku buat duduk kok. Mau keliling taman juga bisa. Kolam di KLCC Park ini juga memiliki air mancur, tapi tidak setiap saat air mancur ini menyemburkan air. Sekira pukul setengah delapan malam, ada sedikit pertunjukan air mancur dengan berbagai warna yang disorot dari lampu di bawah air mancur tersebut. 

Beautiful fountain show at KLCC Park

Petronas Twin Tower’s Quick Fact!

Menara Kembar Petronas merupakan menara kembar tertinggi di dunia dan pernah juga sebagai menara tertinggi di dunia sejak tahun 1998 sampai tahun 2004. Menara kembar ini memiliki sebuah Skybridge yang menghubungkan kedua menara pada lantai 41 dan 42. Ada juga sebuah Observation Deck yang terletak di lantai 86 menara. Mau naik ke Skybridge Dan Observation Deck? Bisa juga kok, siapkan uang sebesar RM 85.00 untuk membeli tiket masuknya.

How to get there?

Menara Kembar Petronas dapat diakses menggunakan beberapa transportasi umum yang ada di Kuala Lumpur seperti LRT, bas ataupun teksi. Cara tergampang yaitu dengan menggunakan LRT. Naiklah LRT Laluan Kelana Jaya yang menuju ke arah Gombak dan turun di stesen KLCC. Mau yang gratisan juga bisa kok, naik aja bas GoKL. Naiklah bas dengan laluan warna hijau dan turun di pemberhentian bas depan Suria KLCC. 

#ShortEscape: Review Agosto Guesthouse Kuala Lumpur [RECOMMENDED]

Eps. 5: Review Hostel Agosto Guesthouse

Agosto Guesthouse

No. 208 Jalan Tun HS Lee, Kuala Lumpur, Malaysia, 51000

Nearest transportation access: Pasar Seni LRT Station, Kuala Lumpur Station, Pasar Seni Bus Hub

Rate: around IDR 75.000 per bed per night (dormitory room)

Facilities: Free WiFi, breakfast not included 

Tidak diperlukan waktu lama untuk sampai di stesen Pasar Seni, hanya 5 menit saja, karena hanya berjarak 1 stesen saja dari KL Sentral. Kami langsung keluar dari stesen ke Jalan Hang Kasturi. Seketika itulah kami bingung mau jalan ke arah mana. Dari pemberhentian bas Pasar Seni, kami berjalan ke arah kiri sampai ketemu Kasturi Walk. Nah loh, nyasar kan, belum ada niat ke Kasturi Walk malah udah nyampe duluan.

Akhirnya kita balik lagi ke arah stesen Pasar Seni, berhenti di dekat pemberhentian bas dan sedikit istirahat cari wangsit petunjuk jalan. Hasil screenshoot Google Maps yang sempet gue ambil nggak banyak membantu. Akhirnya gue suruh Nadia tubggu disitu dan gue jalan ke arah lain cari papan nama Jalan Sultan. Ternyata eh ternyata, Jalan Sultan tinggal lurus saja dari pemberhentian bas tadi. Mbok yo dari tadi to!

Setelah ketemu dengan Jalan Sultan, kami jalan lurus disitu dan di perempatan pertama belok kiri. Di sebelah kanan ada pekerjaan pembangunan MRT yang belum selesai. Nantinya, LRT akan terintegrasi dengan MRT yang stasiunnya terletak di bawah tanah. Setelah sampai di perempatan jalan, gue dengan mudah menemukan Agosto Guesthouse ini, walaupun minim embel-embel papan nama.

Pintu masuk Agosto Guesthouse, nah itu di sebelahnya ada 7-Eleven

Oh iya, Agosto Guesthouse ini udah gue pesen dari sebulan sebelumnya. Setelah survey, blogwalking dan baca-baca review, akhirnya dipilihlah hostel ini. Gue booking hostel melalui Traveloka, sebenernya bisa juga dari booking.comHostelWorld ataupun Agoda, tapi karena gue nggak punya kartu kredit, jadi lebih milih Traveloka aja. Waktu itu gue dapat harga Rp72.300,- per bed per malam, dengan fasilitas free WiFi tanpa sarapan.

Agosto Guesthouse ini tipikalnya seperti hostel di Kuala Lumpur pada umumnya. Menggunakan bangunan ruko lantai 2 dan 3, dan lantai 1 ruko digunakan untuk pertokoan. Ada tangga kecil disamping ruko untuk naik ke hostel ini. Pintu utama hostel menggunakan kunci otomatis dan bisa dibuka menggunakan access card. Berhubung kita belum punya access card, jadi tinggal pencet bel yang tersedia di depan pintu. Mungkin pada saat itu gue belum tau mekanisme pembukaan kunci pintu gimana, jadi setelah gue pencet bel, nggak ada orang yang ngebukain. Gue pencet berkali-kali tetep nggak ada yang ngebukain. Nggak lama dari dalam ada mas-mas penjaga hostel yang suruh gue buka pintu. Oalah ternyata setelah kita pencet bel, keluar suara ‘beep‘ dan pintu sudah unlocked. Ndeso!

Masuk ke dalam hostel kita harus lepas alas kaki. Sepatu atau sandal bisa disimpan di rak sepatu di sepanjang tangga. Disambut oleh mas-mas penjaga hostel yang kayaknya keturunan India. Orangnya lumayan ramah dan kita berkomunikasi menggunakan campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Gue menunjukkan bookingan Traveloka melalui handphone dan mas penjaga hostelnya langsung ngecek di komputer resepsionis. Kesan pertama gue dengan hostel ini adalah sama persis dengan foto yang ada di Traveloka, ya meskipun agak sempit sih aslinya. Dinding hostel ini dipenuhi dengan hiasan dinding dan info tempat wisata di sekitar hostel. Di keranjang resepsionis gue menemukan makanan favorit rakyat Indonesia, Indomie, yang bungkusnya tertera dalam bahasa Melayu. Yawla, jauh-jauh ke Kuala Lumpur nemunya Indomie juga.

Selerakuuu… Ini Mi Segera namanya…

Di pojokan ruangan ada tempat bersantai yang kayaknya tempatnya enak dibuat santai. Sayang sih nggak sempet nyobain ruang santainya. Di ujung sebelum tangga terdapat wastafel dan tandas a.k.a. kamar mandi. Masnya bilang kalau tandas di atas penuh bisa pakai tandas yang di bawah. Di belakang meja resepsionis ada kulkas, gue nggak yakin minuman apa saja yang mereka jual tapi yang pasti ada tulisan BEER tertempel di pintu kulkas. Mereka juga menjual beberapa alat mandi dan universal adaptor. Di sini nggak ada tempat makan soalnya hostel juga nggak menyediakan sarapan. Beberapa kamar ada di lantai 2 ini, dan kamar yang lain ada di lantai 3.

81781277
Resepsionis hostel di lantai 2. Gambar diambil dari booking.com

Setelah mas penjaga hostel tadi ngubek-ngubek komputer dan buku catatan hostel, dia memberitahu kita kalau bookingan kita nggak ada dan sudah dibatalkan. Jederrrr! Ini nggak ada pemberitahuan apa-apa kok bookingan gue dibatalkan? Mimpi apa gue semalem, gue nggak mau keluar duit lagi buat booking hostel lagi. Kemudian gue keluarkan print out booking dari Traveloka yang ada nomor bookingnya. Masnya kemudian ketak-ketik lagi dan bilang kalo bookingan kita ada. Fiyuh, untunglah mas ketemu, kalo nggak, mungkin kita ngemper di depan hostelnya mas nih.

24
Tempat santai di lantai 2. Gambar diambil dari hostelworld.com

Masnya kemudian minta paspor kita berdua. Kemudian masnya minta uang deposit sebesar RM 50. He? Ada uang deposit juga ya. Duh makin kere lah kita ini. Bawa uang cuma seberapa masih dimintain deposit juga. Katanya sih deposit ini buat access card sama kunci loker. Okelah, berarti nanti harus ngirit nih. Kemudian kita dikasih access card buat buka pintu depan, kunci kamar dan kunci loker.

Masnya kemudian ngantar kita ke kamar yang terletak di lantai 3. Ada sebuah tempat santai lain di lantai 3 ini, tampaknya lebih cozy dan tersedia beberapa permainan papan dan juga ada televisi. Kamar kita terletak di ujung depan, pas di depan AC yang pada waktu itu udah dinyalakan. Di dalam kamar terdapat 4 kasur bertingkat, jadi total ada 8 kasur. Gue dapet kasur di atas dan itu naiknya agak susah gitu. Loker terletak di bawah kasur paling bawah dan ukurannya lumayan besar.

Bed bagian atas. Keadaan kamar agak gelap karena tidak ada jendela.

Fasilitas di setiap bed lumayan lengkap. Sebut saja bantal, selimut, lampu baca, kipas angin dan colokan listrik sebanyak 3 buah. Oh iya, colokan listrik di Malaysia bentuknya yang kaki tiga, pastinya berbeda dengan Indonesia, jadi jangan lupa bawa universal adaptor. Waktu itu di bed gue nggak ada kipas anginnya, tapi nggak jadi masalah, AC nya udah dingin banget soalnya. Oh iya, di masing-masing bed juga ada tirainya, jadi walaupun tidur di dorm tapi kita masih punya privasi masing-masing. Kan ada tuh orang yang risih kalo diliatin orang lain pas tidur, termasuk gue sih.

1031378_16072617160044952320
Tempat santai di lantai 3. Gambar diambil dari Agoda

Kamar mandi di lantai 3 ini ada di bagian belakang dan terdapat 3 bilik. Ada wastafel dan cermin berukuran besar di depan bilik kamar mandi. Bilik toilet dan bilik kamar mandi gabung jadi satu. Jadi, di dalam satu bilik ada shower, toilet duduk dan wastafel beserta cermin. Hostel tidak menyediakan perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, shampo dan sikat gigi, jadi jangan lupa bawa sendiri ya! Kamar mandi dalam keadaan sangat bersih. Tersedia juga air panas untuk mandi, tapi tidak bisa diatur tingkat kepanasannya, hanya ada satu saklar untuk menyalakan mesin pemanas airnya. Waktu gue coba, memang keterlaluan panasnya. Akhirnya daripada jadi daging rebus, mending mandi pakai air dingin saja.

Overall, Agosto Guesthouse ini sangat gue rekomendasikan bagi kalian para backpacker yang cari tempat sekadar buat istirahat. Walaupun harganya dibawah Rp100.000,- per malam, tapi fasilitas nya lumayan lengkap. Gue pun merasa nyaman tidur di hostel ini. Bersih dan nggak berisik pula. Lokasi hostel ini pun sangat strategis. Dekat dengan stesen LRT Pasar Seni, stesen Kuala Lumpur dan pemberhentian bas Pasar Seni. Hostel ini juga lokasinya ada di Chinatown. Jadi tinggal jalan kaki aja, udah bisa ubek-ubek Central Market, Kasturi Walk dan Petaling Street. Kelaperan tengah malem pun gampang, bisa ngemil di 7-Eleven yang ada pas di sebelah hostel.

Intinya, VERY RECOMMENDED!

Catatan: Gue lupa nggak ambil banyak foto pas di hostel ini, jadi beberapa foto gue ambil dari beberapa website langsung berupa link, bukan reupload foto tersebut.

To be continued

#ShortEscape: Selamat Datang Ke Kuala Lumpur

Eps. 4: Selamat Datang Ke Kuala Lumpur!

Pesawat yang membawa kami dari Makassar terpakir di gate L14. Pier L terletak tidak terlalu jauh dari Balai Ketibaan dan tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke pemeriksaan imigrasi. Pier L ini berbagi salah satu ‘sayap’ dari klia2 dengan pier K, tidak seperti pier J yang digunakan untuk penerbangan internasional, pier K digunakan untuk penerbangan domestik Malaysia.

Ini nih enaknya pesawat parkir di pier L, karena terletak tidak terlalu jauh, berjalan kaki dari gate ke pemeriksaan imigrasi hanya memerlukan waktu 5 menit saja, apalagi dibantu dengan beberapa travelator. Tapi tetep menurut gue ada kurangnya sih, kalau pesawat parkir di pier L, kita tidak melewati skybridge. Skybridge ini merupakan jembatan penghubung antara satellite terminal (pier P dan Q) dengan bangunan utama bandara. Jika kita melewati skybridge maka akan mendapatkan pemandangan bandara yang spektakuler.

Masih asing dengan penggunaan bahasa Melayu, apalagi yang tertulis begini

Begitu tiba di tempat pemeriksaan imigresen, gue mencari antrean yang nggak terlalu ramai. Akhirnya gue pilih antrean di jalur khusus paspor ASEAN. Cukup 10 menit mengantre, gue udah sampai di depan petugas imigresen Malaysia. Setelah itu gue menyerahkan paspor kepada petugas. Kemudian petugas meminta kita untuk menempelkan kedua jari telunjuk di atas mesin pemindai biometrik yang tersedia. Tanpa bersuara, tanpa pertanyaan apapun, petugas kemudian memberikan cap pada paspor dan menyerahkan kembali. Untunglah nggak ada masalah apa-apa.

Begitu kelar urusan imigrasi, ketika di tempat pengambilan bagasi gue duduk-duduk sebentar sambil mencari secercah harapan WiFi. Gue mencoba menghubungi travelmate gue kali ini, si Nadia, hanya dengan mengandalkan WiFi bandara, mengingat gue nggak mengaktifkan roaming. Dia udah mendarat duluan di klia2 beberapa jam yang lalu. Karena dia udah pernah ke klia2 dan udah menguasai beberapa tempat di klia2, gue nggak terlalu khawatir kalau dia nungguin sendirian di klia2. Kirim pesan lewat LINE, nggak dibaca, gue telfon lewat LINE nggak diangkat juga. Akhirnya gue memutuskan untuk menunggu di Balai Ketibaan saja.

Waktu melewati pemeriksaan kastam (kalau di Indonesia namanya bea dan cukai), pas mau naruh tas ransel ke mesin xray, petugasnya malah nyuruh gue buat jalan lanjut aja, nggak usah naruh tas ransel ke mesin xray. Yaudah, gue mah nurut aja. Selesai urusan kastam, Nadia udah bales pesan LINE gue dan kasih tau kalau dia pas di depan pintu kedatangan. Setelah sedikit mencari akhirnya ketemu juga. Ini nih senengnya ketemu temen lama yang jarang banget ketemu, sekalinya ketemu, ketemunya di luar negeri. Hihihi.

Keluar dari bangunan utama bandara, kita masuk di sebuah mall yang namanya gateway@klia2. Tidak susah untuk menemukan beberapa moda transportasi yang bisa membawa kita ke Kuala Lumpur, sebab semua petunjuk tersebut sudah terpampang dengan jelas. Tinggal ikuti saja setiap petunjuk untuk menuju pemberhentian teksi, stasiun KLIA Transit dan KLIA Ekspres, ataupun platform bas. 

Kali ini, atas nama penghematan, kami lebih memilih menggunakan bas untuk mencapai Kuala Lumpur. Dari Balai Ketibaan, cukup berjalan lurus mengikuti petunjuk dan turun ke level 1. Jangan lupa untuk membeli terlebih dahulu tiket bas di kaunter yang tersedia. Harga tiket bas dari klia2 dengan tujuan KL Sentral adalah RM 12, dengan menggunakan Skybus. Ada beberapa platform tempat keberangkatan bas, jadi perhatikan jangan sampai salah naik bas. Kalau tidak yakin, tanya saja ke mas-mas yang periksa tiket sebelum naik bas.

Bas yang kita naiki mempunyai layout kanan 2 kursi, kiri 2 kursi. Suasana bas layaknya bus DAMRI yang ada di Indonesia. Walaupun minim hiburan dalam bas, tapi cukup nyaman untuk perjalanan dari klia2 ke KL Sentral. Tas atau koper bisa ditaruh di tempat penyimpanan bagasi di bawah bas.

Rame juga basnya, tapi lumayan nyaman untuk perjalanan satu jam.

Perjalanan dari klia2 ke KL Sentral memakan waktu selama satu jam. Dari klia2 ke KL Sentral melewati highway yang mempunyai pemandangan pepohonan kelapa sawit sepanjang jalan. Untuk sesaat gue merasa nggak kayak di luar negeri sih, rasanya sama aja kayak ngelewati jalan tol Gempol-Surabaya.

Pintu Tol Mex Putrajaya

Selepas pemandangan pepohonan kelapa sawit yang membosankan, mulailah terlihat gedung-gedung tinggi dari kejauhan. Lintasan rel keretapi pun mulai terlihat. Keluar dari highway, kita memasuki jalan raya biasa yang mulai dipenuhi dengan mobil, bas dan motor. Tidak lama kemudian bas berhenti di KL Sentral bersebelahan dengan bas-bas lainnya.

Di sekitar KL Sentral

Turun dari bas, kami mengikuti iring-iringan penumpang lain. Waktu itu benar-benar buta tentang KL Sentral. Dari tempat pemberhentian bas, kami naik ke lantai atas menggunakan tangga yang lumayan tinggi, apalagi sambil bawa koper. Begitu sampai di atas, makin bingunglah kita melihat begitu ramainya KL Sentral ini. 

KL Sentral merupakan sebuah hub yang menghubungkan berbagai macam moda transportasi di Kuala Lumpur. Disini kalian bisa dengan mudah menemukan berbagai macam moda transportasi di Kuala Lumpur seperti Light Rail Transit (LRT), KL Monorail, KLIA Ekspres, KLIA Transit, KTM Komuter, KTM Antarabandar, bas dan teksi.

Tujuan kami selanjutnya adalah menuju hostel yang sudah kami pesan sebelumnya, di daerah Chinatown. Untuk menuju kesana, kami menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan turun di Pasar Seni. Tidak sulit untuk menemukan stesen LRT di KL Sentral ini, karena petunjuk tersedia dengan jelas. 

Harga tiket dari KL Sentral menuju stesen Pasar Seni adalah RM 1.30. Tiket bisa dibeli melalui mesin-mesin tiket yang tersedia di sekitar stasiun LRT. Tiket untuk LRT berbentuk token berwarna biru. Ketika masuk melalui gate, cukup tempelkan token di mesin gate dan tunggu pintu terbuka. Setelah melewati gate, kami segera naik ke platform keberangkatan LRT. Perhatikan jangan sampai salah pilih platform, untuk menuju Pasar Seni, pilih platform dengan tujuan akhir Gombak.

Tiket LRT berbentuk token berwarna biru.

Tidak diperlukan waktu lama untuk menunggu tren datang. Ketika tren telah datang, beri jalan dulu untuk penumpang yang akan turun, kemudian barulah kita bisa masuk. Dari KL Sentral ke Pasar Seni hanya berjarak satu stesen dengan lama perjalanan kurang lebih sekitar 5 menit.

Platform LRT di KL Sentral

To be continued…

#ShortEscape: Naik AirAsia, Cara Gampang dari Makassar ke Luar Negeri

Eps. 3: Flight Review AirAsia AK-333 Makassar – Kuala Lumpur

Airline: AirAsia 

Flight Number: AK-333

Route: Sultan Hasanuddin International Airport Makassar (UPG/WAAA) to Kuala Lumpur International Airport (KUL/WMKK)

Aircraft: Airbus A320-216

Aircraft Registration: 9M-AJV 

Aircraft Age: 7.3 years

Class of Service: Economy 

Seat Number: 15A

STD: 11.45 LT STA: 11.40

STA: 14.55 LT ATA: 14.35

Seorang cewek memakai baju putih yang ditutupi dengan blazer ketat warna merah menyala dibalut dengan rok seukuran di atas lutut yang berwarna merah menyala juga menyambut para penumpang di pintu pesawat. Ya, dia adalah flight attendant atau orang Indonesia biasa sebut ‘pramugari’ dari penerbangan AirAsia yang gue tumpangi ini. Kalau dilihat-lihat dari bentuk wajahnya sih kayaknya doi beretnis India, nggak sempat liat namanya di name tag nya, tapi di name tag nya berbendera Malaysia. Dia terlihat cantik dengan rambut panjang berwarna kecoklatan, kulit eksotis khas India dan dibalut seragam AirAsia tadi. #salahfokus

Keadaan di dalam kabin pesawat waktu gue masuk masih keliatan agak sepi, berarti belum banyak penumpang yang naik. Dengan segera gue menuju seat 15A, seat yang memang gue pesen duluan melalui website AirAsia demi terciptanya penerbangan yang nyaman. Ya, karena AirAsia adalah LCC dan kursi pun dijual maka demi mendapatkan windows seat gue rela mengeluarkan duit 20 ribu buat beli seat tersebut. 

Setelah menemukan seat gue dan menyimpan ransel di tempat penyimpanan bagasi di atas tempat duduk, gue duduk manis di windows seat berharga 20 ribu tersebut. Seat 15A terletak pas di belakang hot seat yang terletak di emergency exit. Dari seat ini bisa terlihat Garuda Indonesia Boeing 747-400 yang parkir di sebelah kiri pesawat ini, tapi karena di luar lagi gerimis manja, jadi gagal dapat foto pesawat jumbo jet tersebut yang jelas.

Pesawat jumbo jet Garuda Indonesia Boeing 747-400 PK-GSG yang telah dipensiunkan

Satu hal yang menurut gue unik adalah penggunaan Bahasa Melayu dalam setiap announcement yang diberikan oleh kru kabin. Sebenarnya nggak aneh sih, tapi tepatnya nggak biasa dengar aja. Tau sendiri kan kalau menurut kita orang Indonesia, Bahasa Melayu itu memiliki pemilihan kata yang menurut kita agak kurang pas, atau bahkan kita merasa asing dengan beberapa kata dalam Bahasa Melayu, seperti puan-puan, sabuk keledah, pintu kecemasan, dan lain-lain. Ada yang tau arti dari kata-kata di atas?

Tepat pukul 11.40 WITA, pesawat mulai didorong mundur. Para kru kabin mulai sibuk mempersiapkan untuk lepas landas dan bersiap melakukan peragaan keselamatan penerbangan. Karena ini pesawat Malaysia dengan penerbangan menuju Malaysia, maka penjelasan peragaan keselamatan penerbangan dilakukan dalam dua bahasa, Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Sama-sama ngertinya cuman dikit-dikit. Hihihi.

Wing View AirAsia Airbus A320-216 9M-AJV

Pesawat kemudian takeoff dari runway 03. Sekitar 15 menit kemudian lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dimatikan, yang artinya pesawat sudah mencapai ketinggian jelajah. Gue mulai ubek-ubek apa yang ada di seat pocket di depan gue. Ada 3sixty, majalah penerbangan milik AirAsia, ada BIG Duty Free katalog duty free, ada Santan, buku menu makanan yang tersedia dalam penerbangan dan ada kartu petunjuk keselamatan. 

Santan, Flavours of Asian

Yang paling menarik menurut gue sih buku menunya, Santan. Liatin menunya satu persatu membuat gue makin laper aja. Untungnya udah pesan pre-book meal. Kenapa untung? Pertama karena harga lebih murah dibanding jika beli langsung di pesawat. Waktu itu gue beli seharga Rp33.900,- sudah termasuk minuman yang bisa dipilih antara air mineral, kopi atau soda. Kalau beli langsung, harganya RM 15 atau sekitar Rp45.000,- dan nggak dapet minuman. Kedua, persediaan makanan yang dijual itu terbatas, jadi kalau abis ya cuma bisa liatin orang yang udah dapat makan duluan. Kalo kita pesan pre-book meal, dijamin kita pasti dapat jatah kita. Oh iya, jangan lupa tunjukkan boarding pass ketika kru kabin membagikan pre-book meal.

Makanan yang gue pesen kali ini adalah salah “Signature Meals” dari AirAsia, yaitu Nasi Lemak Pak Nasser. Berikut adalah penjelasan tentang Nasi Lemak Pak Nasser yang gue dapat dari buku menu “Santan”.

Promotional Image di buku menu Santan, tapi nggak mungkin lah ya realitanya disajiin pake cobek

What’s that one meal that is hard to resist and you can have it anytime of the day?

Malaysia’s national dish, Nasi Lemak! More commonly consumed for breakfast, the aromatic gastronomic delight would tempt you no matter what time it is.

The traditional fragrant pandan (screwpine leaves) flavoured coconut rice is served with Pak Nasser’s special chili sambal (relish) and tender chicken rendang, accompanied with traditional condiments of fried anchovies, crunchy toasted groundnuts and a half of hard-boiled egg.

Every morsel is sure to delight your senses that will only leave you begging for more.

Wah dari penjelasan dan gambar di buku “Santan” makin penasaran sama makanan paling populer dan paling sering dipesan di penerbangan AirAsia ini. Mas-mas kabin kru kemudian meminta dan cek boarding pass gue. Kemudian dia memberikan Nasi Lemak dan segelas air mineral. 

Walaupun beda dari yang di buku menu, tapi rasanya juara

Nggak pake lama langsung gue cobain Nasi Lemak itu. Rasanya? Maknyuss kalau kata Pak Bondan Winarno. Banyak yang bilang kalau Nasi Lemak rasanya sama kayak nasi uduk, tapi menurut gue sih beda ya. Kalau nasi lemak ini rasa santannya lebih kerasa. Ditambah lagi dengan sambal khas nya yang rasanya pedas manis ini. Pokoknya kalau naik AirAsia wajib nyobain yang namanya Nasi Lemak Pak Nasser ini, kalau nggak pasti nyesel deh.

Selesai makan, gue mencoba menghabiskan waktu dengan tidur, sekalian mengumpulkan tenaga karena begitu sampai di Kuala Lumpur gue berencana langsung menjelajah kota. 

Sekitar pukul 14.10 LT (tidak ada perbedaan waktu antara Makassar dengan Kuala Lumpur) pesawat mulai menurunkan ketinggian. Para kru kabin juga mulai mempersiapkan untuk pendaratan. Daratan semenanjung Malaysia pun sudah mulai terlihat dari balik awan yang menggantung. Tampaknya cuaca sedang mendung di bawah sana.

Tepat pukul 14.30 pesawat mendarat dengan sempurna. Pesawat langsung berbelok menuju taxiway dan bergerak menuju apron gate L14. Cukup 5 menit waktu yang dibutuhkan pesawat sejak mendarat sampai terparkir sempurna di apron. Ini lah pertama kalinya gue melihat klia2 dengan pesawat AirAsia yang berjejer rapi di sekitarnya. AirAsia memang menguasai bandara klia2 ini. 

Hello klia2!
Parkir di sebelah AirAsia 9M-AQF

Setelah para penumpang mulai turun dari pesawat, gue pun juga ikut langsung turun. Sebenarnya pengen turun paling akhir biar bisa minta foto sama mbak-mbak kru kabin AirAsia sih, tapi karena gue ingat temen gue udah sampai duluan dan nungguin di luar, dan dia bilang kalo antri imigrasinya lama, maka gue mengurungkan niat mulia gue tersebut. Akhirnya hanya bisa senyum sama mbak-mbak kru kabin waktu keluar dari pesawat. Semoga suatu saat bisa terbang lagi dengan maskapai berbiaya rendah terbaik di dunia ini.

Hello Kuala Lumpur! I’m coming!

To be continued…